Teks fiksi merupakan sebuah cerita, cerita yang menggambarkan kehidupan yang dikreasikan dengan kekuatan imajinasi. Dengan imajinasi maka akan berefek pada kenikmatan dan kepuasan membaca sebuah fiksi.
Literatur imajinatif atau cerita fiksi sebaiknya dilakukan secara cepat. Namun sangat tidak mungkin apabila membaca cerita fiksi yang panjang seperti novel atau roman. Mereka tidak dapat dibaca sekaligus, biasanya ada jeda dalam menikmatinya.
Literatur imajinatif atau cerita fiksi sebaiknya dilakukan secara cepat. Namun sangat tidak mungkin apabila membaca cerita fiksi yang panjang seperti novel atau roman. Mereka tidak dapat dibaca sekaligus, biasanya ada jeda dalam menikmatinya.
Sebenarnya, tujuan membaca cerita fiksi secara cepat yakni, supaya kita tidak melupakan peristiwa-peristiwa penting yang dapat mengaburkan daya imajinasi dan kesatuan alur yang dapat membuat kurang pahamnya dalam memahami keseluruhan cerita.
Maka dari itu, ada beberapa aturan dalam membaca cerita fiksi. Aturan ini harus dihindari supaya kita bisa menikmati dan menghayati cerita fiksi yang kita baca.
Aturan pertama, jika seseorang membaca teks cerita fiksi, sebaiknya menghindari hal negatif, yang paling penting; jangan berusaha menolak efek yang ditimbulkan oleh teks literatur imajinatif dalam diri kita. Artinya kita harus menerima apa adanya efek yang muncul dalam diri ketika membaca teks fiksi. Ikut masuk ke dalam cerita dan membuka diri baik secara emosional maupun rasional.
Kedua, jangan mencari istilah, proposisi, dan argumen dalam literatur imajinatif. Hal ini disebabkan, karena semua itu merupakan logika, padahal dalam teks fiksi pernyataan menjadi salah satu medium pengaburan.
Ketiga, jangan mengkritik dengan standar kebenaran dan konsistensi yang berlaku dalam komunikasi ilmiah. Kebenaran ceria fiksi tidak sama dengan kebenaran faktual atau teks-teks ilmiah nonfiksi. Kisah dalam cerita fiksi adalah hasil kerja imajinasi. Jadi, ini merupakan karya imajinatif, maka tidak perlu dicari atau diverivikasi kebenarannya di dunia faktual.
Ketiga, jangan mengkritik dengan standar kebenaran dan konsistensi yang berlaku dalam komunikasi ilmiah. Kebenaran ceria fiksi tidak sama dengan kebenaran faktual atau teks-teks ilmiah nonfiksi. Kisah dalam cerita fiksi adalah hasil kerja imajinasi. Jadi, ini merupakan karya imajinatif, maka tidak perlu dicari atau diverivikasi kebenarannya di dunia faktual.
Ketiga aturan di atas yang digunakan sebagai pedoman dalam membaca sebuah teks fiksi, supaya dalam membaca teks fiksi kita dapat benar-benar menikmati, memahami dan dengan mudah mengimajinasikan jalannya cerita. Selamat mempraktekan.
Salam Guru Ngapak.
Sumber :
Nurgiantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Madha University Press

0 Response to "Aturan Membaca Teks Fiksi"
Post a Comment
Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.