PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH

PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH Oleh: Heri Indra Gunawan     BAB 1 PENDAHULUAN  Keberadaan manusia di muka bumi tidak akan pernah terlepas dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk mengetahui segala sesuatu. Rasa ingin mengetahui sesuatu inilah yang akan memunculkan pengetahuan pada diri manusia. Ketika manusia sudah memiliki pengetahuan, maka ia akan berusaha untuk dapat membuktikan kebenaran dari apa yang ia tahu. Dalam membuktikan kebenaran pengetahuannya, manusia melakukan penelitian-penelitian ilmiah. Penelitian ini dilakukan dengan berbagai macam cara, metode, teknik, dan juga dilaporkan dalam bentuk ilmiah. Dari latar belakang mencari kebenaran dan adanya penelitian ilmiah, maka pemakalah berusaha menjelaskan apa itu penelitian dan  bagaimana langkah-langkah, macam-macam penelitian, serta bagaimana cara penulisan hasil penelitian ilmiah.  BAB II PEMBAHASAN  A. Penelitian dan Penulisan Ilmiah 1. Penelitian Menurut Mc Millan & Schumacher 1989 (dalam Emzir 2012: 5) penelitian adalah suatu proses sistematik pengumpulan dan penganalisisan informasi (data) untuk berbagai tujuan. Sementara menurut Kerlinger 1990 (dalam Emzir 2012: 5) mendefinisikan penelitian ilmiah sebagai “penyelidikan sistematik, terkontrol, empiris, dan kritis tentang fenomena sosial yang dibimbing oleh teori dan hipotesis tentang dugaan yang berhubungan dengan fenomena tersebut.” Menurut Creswell 2003 (dalam Emzir 2012: 9) ada tiga pendekatan dalam penelitian, yaitu pendekatan kualitatif, pendekatan kuantitatif, dan pendekatan metode gabungan. Istilah penelitian kualitatif pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kualitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamatan harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Penelitian kuantitatif melibatkan diri pada hitungan/angka/kuantitas. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.  2. Penulisan Ilmiah Penulisan Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis/peneliti, berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Dari definisi yang lain dikatakan bahwa karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Pada hakikatnya penulisan ilmiah bertujuan untuk: a. Melatih seseorang untuk dapat menguraikan dan membahas suatu permasalahan secara  ilmiah dan dapat menuangkannya secara ilmiah dan menuangkannya secara teoritis, jelas, sistematis dan metodologis. b. Menumbuhkan etos ilmiah di masyarakat khususnya para mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya. c. Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara peneliti dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya. d. Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki seseorang/mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.  B. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah Penulisan Ilmiah yang secara logis dan kronologis mencerminkan kerangka penalaran ilmiah. Kerangka penalaran ilmiah ini untuk membantu mempermudah penguasaan hal-hal yang bersifat teknis. Adapun langkah-langkah dalam penelitian ilmiah menurut (Jujun S. Suriasumantri, 2010: 309-341), adalah sebagai berikut: 1. Pengajuan masalah, mencangkup: a. Latar belakang masalah, b. Identifikasi masalah c. Pembatasan masalah d. Perumusan masalah e. Tujuan penelitian f. Keguanan penelitian.  2. Penyusunan kerangka teoretis meliputi: a. Pengkajian teori-teori ilmiah yang akan digunakan dalam analisis b. Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan c. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis d. Perumusan hipotesis.  3. Metodologi penelitian mencangkup: a. Tujuan penelitian secara lengkap dan operasional dalam bentuk pernyataan yang mengidentifikasi variabel-variabel dan karakteristik yang akan diteliti; b. Tempat dan waktu penelitian di mana akan dilakukan generalisasi mengenai variabel-variabel yang akan diteliti; c. Metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisasi yang diharapkan; d. Teknik pengambilan contoh yang relevan dengan tujuan penelitian, tingkat keumuman dan metode penelitian; e. Teknik pengumpulan data yang mencangkup identifikasi variabel yang akan dikumpulkan, sumber data, teknik pengukuran, instrumen dan teknik mendapatkan data; f. Teknik analisis data yang mencangkup langkah-langkah dan teknik analisis yang dipergunakan yang ditetapkan berdasarkan pengajuan hipotesis (sekiranya mempergunakan statistika maka tuliskan hipotesis nol dan hipotesis perbandingan: Hâ‚’ / H1).  4. Hasil penelitian yang menyatakan: variabel-variabel yang diteliti, teknik analisis data, deskripsi hasil penelitian, penafsiran terhadap kesimpulan analisis data.  5. Ringkasan dan kesimpulan, yang mencangkup: a. Deskripsi singkat mengenai masalah, kerangka teoretis, hipotesis, metodologi, dan penemuan penelitian; b.  Kesimpulan penelitian yang merupakan sintesis berdasarkan keseluruhan aspek tersebut; c. Pembahasan kesimpulan dengan melakukan perbandingan terhadap penelitian lain dan pengetahuan ilmiah yang elevan; d.  Mengkaji implikasi penelitian; e.  Mengajukan saran.  C. Teknik Penulisan Ilmiah Tujuan utama menulis karangan ilmiah atau karya ilmiah ialah agar karangan tersebut dibaca. Namun, dalam menuliskan suatu karya ilmiah yang baik, tahap demi tahap dimulai dari judul sampai daftar pustaka diperlukan konsentrasi penuh dari penulis. Dua ciri karangan ilmiah yang harus dipenuhi. Pertama, isi karangan ilmiah. Kedua, gaya menulis maksud tersebut (David Linsday 1986: 1, dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan Jalaluddin 2013: 181). Jujun S. Suriasumantri, menambahkan bahwa teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek, yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah, serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber pengetahuan ilmiah yang digunakan dalam penulisan (Jujun S. Suriasumantri, 2010: 347). Penggunaan bahasa dan istilah yang rumit membuat komunikasi terhalang. Padahal, maksud dari tulisan ilmiah ialah mengomunikasikan informasi ilmiah baru kepada ilmuwan lainnya. Adapun aspek pertama, yakni gaya penulisan berhubungan dengan banyak faktor kemampuan bahasa tulisan, sekaligus tingkat kecerdasan intelektualitas seseorang. Menurut kohnstam,(dalam Jalaluddin 2013: 181-182) kemampuan berbahasa terkait dengan kecerdasan seseorang. Seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi akan mampu menginformasi dan mengomunikasikan buah pikirannya secara sistematis dan runtut dalam bahasa tulisan. Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Somerset Maugham (dalam Jalaluddin 2013: 182), bahwa seorang yang pikirannya semerawut akan menulis secara semerawut pula. Bahasa yang dipergunakan harus jelas di mana pesan mengenai objek yang ingin dikomunikasikan mengandung informasi yang disampaikan sedemikian rupa sehingga sipenerima betul-betul mengerti akan isi pesan yang disampaikan kepadanya. Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sebuah kalimat yang tidak bisa diidentifikasikan mana yang merupakan subjek dan mana yang merupakan predikat serta hubungan yang terkait antara subjek dan predikat kemungkinan besar akan merupakan informasi yang tidak jelas. Dalam menulis karangan ilmiah penggunaan kata harus dilakukan secara tepat artinya kita harus memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan apa yang ingin disampaikan. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bahwa sipenerima pesan mendapatkan kopi yang benar-benar sama dengan prototipe yang disampaikan sipemberi pesan, seperti fotokopi. Dalam komunikasi ilmiah tidak boleh terdapat penafsiran yang lain selain isi yang dikandung oleh pesan tersebut, sedangkan dalam komunikasi estetik sering terdapat penafsiran yang berbeda terhadap objek komunikasi yang sama, yang disebabkan oleh penjiwaan yang memang tidak ditujukan kepada penjiwaan melainkan kepada penalaran dan oleh sebab itu harus dihindarkan bentuk pernyataan yang tidak jelas atau bermakna jamak.  D. Kajian Teori & Kerangka Teori 1. Definisi Dalam KBBI, teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi; penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi. Menurut Snelbecker (dalam Moleong 2009: 57) definisi teori adalah seperangkat proposisi yang berinteraksi secara sintaksi (yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis dengan lainnya dengan data atas dasar yang dapat diamati) dan berfungsi sebagai wadah untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati. Sedangkan menurut Glaser & Strauss 1967 (dalam Moleong 2009: 57) menyatakan teori berasal dari data dan yang diperoleh secara analitis dan sistematis melalui metode komparatif.  2. Kegunaan/fungsi Teori Secara umum, ada tiga fungsi teori, yaitu: untuk (1) menjelaskan (explanation), (2) meramalkan (prediction), dan (3) pengendalian (control) suatu gejala. Sedangkan menurut Snelbecker (dalam Moleong 2009: 57-58), fungsi teori yaitu: 1)   Mensistematiskan penemuan-penemuan penelitian 2) Menjadi pendorong untuk menyusun hipotesis dan dengan hipotesis membimbing peneliti mencari jawaban 3)   Membuat ramalan atas dasar penemuan 4) Menjelaskan penjelasan dan dalam hal ini, untuk menjawab pertanyaan mengapa. Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang akan diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian.  3. Deskripsi Teori Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variabel independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan dengan variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang dikemukakan. Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan, dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut: 1.   Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya 2.  Cari sumber-sumber bacaan yang banyak dan relevan dengan setiap variabel yang diteliti. 3.    Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian lihat penelitian permasalahan yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis dan saran yang diberikan. 4.  Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, kemudian bandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. 5.    Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan variabel yang akan diteliti lakukan analisis, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.  E. Kerangka Berpikir Kerangka berpikir berbeda dengan sekumpulan informasi atau hanya sekedar sebuah pemahaman. Lebih dari itu kerangka berpikir adalah sebuah pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran selanjutnya. Untuk mendapatkan sebuah kerangka berpikir tentang suatu hal, bukanlah sesuatu yang mudah. Diperlukan suatu pemikiran yang mendalam, tidak hanya menyimpulkan dari fakta yang dapat terindra, atau hanya dari informasi-informasi yang terpenggal. Selain itu diperlukan sebuah pemikiran yang cerdas dan cemerlang akan setiap informasi yang dimilikinya dan berupaya dengan keras menyimpulkan suatu kesimpulan yang memunculkan keyakinan. Definisi Kerangka menurut KBBI adalah rangka; garis besar; rancangan; prinsip atau konsep ilmiah yang digunakan dalam penelitian sebagai dasar analisis data. Kerangka pikir merupakan intisari dari teori yang telah dikembangkan dan mendasari perumusan hipotesis. Teori yang telah dikembangkan dalam rangka memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah yang menyatakan hubungan antar variabel berdasarkan pembahasan teoritis. Kerangka berpikir adalah serangkaian konsep dan kejelasan hubungan antar konsep tersebut yang dirumuskan oleh peneliti berdasar tinjauan pustaka, dengan meninjau teori yang disusun dan hasil-hasil penelitian yang terdahulu yang terkait. Kerangka berpikir ini digunakan sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diangkat. Atau, bisa diartikan sebagai mengalirkan jalan pikiran menurut kerangka logis (construct logic) atau kerangka konseptual yang relevan untuk menjawab penyebab terjadinya masalah. Untuk membuktikan kecermatan penelitian, dasar dari teori tersebut perlu diperkuat dengan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan. Kerangka berpikir penting untuk membantu dan mendorong peneliti memusatkan usaha penelitiannya untuk memahami hubungan antar variabel tertentu yang telah dipilihnya, mempermudah peneliti memahami dan menyadari kelemahan/keunggulan dari penelitian yang dilakukannya yang dibandingkan dengan penelitian terdahulu. Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lainnya. Kerangka berpikir merupakan penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan. Kriteria utama agar suatu kerangka berpikir bisa meyakinkan ilmuwan, adalah alur-alur pemikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berpikir merupakan sintesa tentang hubungan antara variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antara variabel penelitian. Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis. Dalam merumuskan hipotesis, setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berpikir yang benar dan peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar menyusun kerangka berpikirnya. Berpikir ilmiah terangkai secara sistematis, dalam suatu kerangka yang terdiri dari: penalaran, logika, analitis, konseptual, dan kritis. Proses berpikir ilmiah terbangun oleh kerangka utama ini. Dengan demikian, berpikir bisa dikategorikan sebagai ilmiah, bila prosesnya mengikuti rangkaian kerangka tersebut. 1. Penalaran Penalaran berarti berpikir dengan menggunakan nalar (rasio). Diartikan pula sebagai cara berpikir yang logis, yang mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman. Penalaran merupakan langka pertama dalam rangkaian berpikir ilmiah. Karakteristik utama dalam penalaran ilmiah adalah: a. Dilakukan dengan sadar b. Bertujuan mencapai kebenaran ilmiah c. Bersifat rasional/empiris d. Sistematis/analisis e. Kesimpulan yang dihasilkan tidak mempunyai kebenaran mutlak dan menurut John Dewey proses penalaran mencangkup: a. Mengenali dan merumuskan masalah b. Menyusun kerangka berpikir c. Perumusan hipotesis d. Menguji hipotesis e. Menarik kesimpulan.   Dalam kerangka berpikir ilmiah, alur pikiran selalu didasarkan pada proses penalaran. Adapun dalam prosesnya, bernalar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bernalar induktif dan bernalar deduktif. Penalaran induktif adalah proses berpikir berdasarkan hasil inderawi mengenai sesuatu yang bersifat khusus ke arah kesimpulan yang berlaku umum untuk keseluruhan. Berpikir induktif adalah logika berpikir yang bergerak dari hal-hal khusus untuk kemudian menggeneralisasikannya menjadi hal-hal yang umum. Sedangkan dalam penalaran deduktif, kesimpulan ditarik dari pernyataan yang berisi pengetahuan. Pengetahuan tersebut dapat berupa prinsip, teori, dalil atau pernyataan lain yang telah dimiliki umum mengenai suatu hal. Dengan demikian proses penalaran deduktif bergerak dari pernyataan dasar yang umum ke kesimpulan khusus.  2. Logika Bila penalaran lebih mengacu pada proses dan alur pikiran, maka logika lebih kepada produk pemikiran itu sendiri. Logika mengkaji kriteria untuk menentukan kebenaran pernyataan atau argumen. Dengan demikian, logika dihubungkan dengan proses menarik kesimpulan menurut cara tertentu, agar diperoleh suatu kesimpulan yang valid.  3. Analisis Analisis berasal dari bahasa Yunani analysein yang berarti “melonggarkan” atau “memisahkan”. Analisis juga diartikan sebagai penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan (KBBI, 2008: 58). Menurut Jujun S. Suriasumantri, analisis adalah kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Proses berpikir ilmiah tidak terhenti pada penampilan logika induktif dan deduktif. Untuk memperoleh sebuah kesimpulan, yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan kedua logika tersebut perlu dianalisis.  4. Konsepsional Proses berpikir ilmiah bersifar konsepsional yaitu atas dasar dan mengacu kepada konsep tertentu. Secara etimologis, konsep itu sendiri diartikan sebagai: 1) rancangan atau buram surat dsb; 2) ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret (KBBI, 2008: 724). Jadi dapat dikatakan bahwa konsep merupakan definisi yang dipakai untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena sosial atau fenomena alami. 5. Kritis Kritis dapat diartika sebagai: 1) bersifat tidak lekas percaya; 2) bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; 3) tajam dalam penganalisisan (KBBI, 2008: 742). Bersikap ataupun berpikir kritis merupakan bagian dari rasa ingin tahu manusia. Dari rasa ingin tahu ini selanjutnya manusia mengamati, memilah, memilih, apa yang ingin diketahuinya secara lebih mendalam dengan cara menganalisis melalui berpikir kritis.  F. Pengajuan Hipotesis  1. Definisi Hipotesis Hipotesis dapat diartikan sebagai  jawaban  sementara  terhadap  pertanyaan penelitian yang perlu diuji kebenarannya secara empirik. Istilah diuji  mengandung arti bahwa hipotesis tidak perlu dibuktikan sebagai sesuatu yang  benar atau salah, melainkan apakah bisa diterima atau ditolak. Hipotesis bisa  diterima, jika didukung oleh fakta empirik. Sedangkan jika hipotesis itu tidak didukung oleh bukti empirik, maka hipotesis itu dinyatakan ditolak dan bukan dinyatakan salah.  2. Ciri-ciri Hipotesis Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang memiliki ciri-ciri berikut ini : a. Berinduk pada teori, artinya hipotesis mempunyai kaitan dengan teori-teori  yang berlaku dalam suatu ilmu pengetahuan dan dapat dikomunikasikan dengan ilmu pengetahuan. b. Dapat diuji, artinya memungkinkan dapat diukur dan berdasarkan bukti-bukti empirik. c. Sederhana, artinya jika variabel yang diteliti mempunyai banyak level, maka disusun sub-sub hipotesis yang masing-masing berkenaan dengan satu level atau dapat pula dinyatakan bahwa hipotesis harus spesifik. d. Dirumuskan dalam bentuk pernyataan (deklaratif) dan bukan dalam bentuk pertanyaan. e. Berdaya ramal, artinya hipotesis mempunyai tingkat perkiraan jawaban yang tepat atau mempunyai sejumlah fakta yang diperkirakan terdapat pada hipotesis.  3. Jenis-Jenis Hipotesis.  a.  Hipotesis Kerja      Rumusan hipotesis kerja ditandai dengan rumusan yang merujuk kepada : a.  Perbedaan antara dua hal atau lebih. b.  Hubungan antara dua hal atau lebih.      Contoh : · Terdapat  perbedaan  sikap  antara  penduduk  kota  dengan  penduduk  desa terhadap wajib belajar pendidikan dasar. · Terdapat hubungan yang berarti antara perlakuan pemimpin terhadap bawahannya dengan tanggungjawab kerja bawahannya. Penggunaan kedua model tersebut tergantung dari masalah penelitian yang  akan diteliti.  b. Hipotesis Nol Hipotesis nol menunjukkan kebalikan dari hipotesis kerja. Hipotesis nol menolak secara eksplisit apa yang dinyatakan di dalam hipotesis kerja. Hipotesis nol merujuk kepada tidak adanya hubungan atau perbedaan. Contoh :   Tidak terdapat perbedaan sikap antara penduduk kota dengan penduduk desa terhadap wajib belajar pendidikan dasar.   Tidak  terdapat  hubungan  yang  berarti  antara  perlakuan  pemimpin  terhadap bawahannya dengan tanggungjawab kerja bawahannya.  c.  Hipotesis Statistik Hipotesis statistik merupakan transformasi dari hipotesis kerja maupun hipotesis nol. Tujuan perumusan hipotesis statistik adalah untuk menjelaskan parameter apa dari populasi yang hendak diuji. Misal : Terdapat  perbedaan  sikap  antara  penduduk  desa  dan  penduduk  kota  terhadap wajib  belajar  pendidikan  dasar.  Maka  statistik  yang  akan  diuji  untuk  menyimpulkan populasinya adalah statistik rata-rata (Mean) Simbolnya adalah :   4. Fungsi Hipotesis. a. Menguji  teori,  artinya  berfungsi  untuk  menguji  kesahihan  teori.  Pernyataan  teori dalam bentuk yang teruji disebut hipotesis. Teori  adalah  satu  satu  prinsip  yang  dirumuskan  untuk  menerangkan  sekelompok gejala/peristiwa yang saling berkaitan. Teori menunjukkan adanya hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. b. Menyarankan  teori  baru,  apabila  hasil  pengujian  hipotesis  dapat  membentuk proposisi, asumsi atau penjelasan tentang suatu peristiwa. c. Mendeskripsikan  fenomena  sosial,  artinya  hipotesis  memberikan  informasi  kepada peneliti tentang apa yang nyata-nyata terjadi secara empirik.  G. Teknik Notasi Ilmiah 1. Definisi Notasi Ilmiah Menurut KBBI, pengertian notasi adalah sistem lambang (tanda) yang menggambarkan bilangan nada-nada dan ujaran. Proses pelambangan, nada atau ujaran dengan tanda (huruf), catatan pendek yang perlu diketahui atau diingat. Sedangkan ilmiah adalah bersifat ilmu,. Secara ilmu pengetahuan. Jadi notasi ilmiah adalah ilmu tentang sistem lambang (tanda) yang menggambarkan bilangan nada atau ujaran dengan tanda huruf.  2. Teknik-Teknik Notasi Ilmiah  Ada tiga teknik yang popular yang banyak digunakan di berbagai perguruan tinggi baik PTN maupun PTS, yakni sebagai berikut: a. Footnote Footnote adalah catatan pada kaki halaman untuk menyatakan sumber kutipan, pendapat buah pikiran, fakta-fakta, atau ikhtisar. Footnote dapat juga brisi komentar mengenai suatu hal yang dikemukakan di dalam teks, seperti keterangan wawancara, pidato di televisi, dan yang sejenisnya. Gelar akademik dan gelar kebangsawanan tidak disertakan serta nama pengarang atau penulis tidak dibalik. Penulisan nomor pada footnoted sesuai dengan nomor kutipan dengan menggunakan angka Arab, yaitu angka yang berasal dari ejaan Arab yang sekarang menjadi ejaan internasional (1,2,3, dan seterusnya) yang diketik naik setengah spasi. Footnote pada tiap bab diberi nomor urut, mulai dari angka 1 sampai dengan selesai dan dimulai dengan nomor satu lagi pada bab-bab berikutnya. Urutan Penulisan footnote antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi yang lain berbeda karena pada umumnya, karena setiap perguruan tinggi memiliki pedoman penulisan masing-masing. Footnote yang merupakan rujukan ditulis berdasarkan cara berikut ini. 1.  Nama pengarang tanpa dibalik urutannya, diikuti koma. 2.  Jika nama dalam tertulis lengkap disertai gelar akademis, catatan kaki mencantumkan gelar tersebut. 3.  Judul karangan dicetak miring tidak diikuti koma 4.  Nama penerbit dan angka tahun diapit tanpa kurung dikuti koma. 5.  Nomor halaman dapat disingkat hlm atau h. Angka nomor halaman diakhiri   titik (.). Contoh-contoh footnote 1.   Footnote diambil dari buku : 1 Andrew Spencer, Morphological Theory: An Introduction to Word Strucuture in Generative Grammar, (Cambridge, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1993), hlm. 81.  2.   Footnote dari majalah 2 Ahmad Ta’rifin, “Menimbang Paradigma Liberalisme dalam Praktik Persekolahan” (Pekalongan: Forum Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam STAIN Pekalongan, No. 1 Juni, III, 2005), hlm. 123.  3.   Footnote dari surat kabar 3 Rokhmah Sugiarti, “Meluruskan Mitos Jari-jari Perempuan” (Semarang: Suara Merdeka, 29 Mei 2000), hlm. 7.  4.  Footnote dari makalah 4 Din Syamsuddin, “Peranan Golkar dalam Pendidikan Politik Bangsa”, Makalah Disampaikan dalam Seminar Nasional Peranan Pendidikan Islam dalam Pendidikan Politik di Indonesia yang Diselenggarakan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 19-21 Mei 1996.  5.  Karangan yang tidak diterbitkan, seperti skripsi, tesis, dan disertasi 5 Afdol Tharik Wastono, “Kongruensi dan Reksi dalam Bahasa Arab” (Jakarta: Tesis Magister umaniora, Perpustakaan UI, 1997), hlm. 82.  6.  Pidato di televisi 6 Penjelasan A. Latief dalam siaran Pembinaan Bahasa Indonesia melalui TVRI, Selasa, 4 Agustus 1987 pukul 20.35 WIB.  b. Innote Pada teknik ini, sumber kutipan ditulis atau diletakkan sebelum bunyi kutipan atau diletakkan dalam narasi atau kalimat sehingga menjadi bagian dari narasi atau kalimat. Pada innote ketentuannya adalah sebagai berikut.  1. Membuat pengantar kalimat sesuai dengan keperluan 2. Menulis nama akhir pengarang 3. Mencantumkan tahun terbit, titik dua, dan nomor halaman di dalam kurung 4. Menampilkan kutipan, baik dengan kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung. Contoh : Perkembangan bahasa merupakan hal yang sangat urgen dalam tahap perkembangan jiwa anak, menurut Yule (1996: 178 – 180), perkembangan bahasa dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu (1) tahap pralinguistik (pre-language Stages); (2) tahap satu kata, satu frasa (the one-word or holophrastic, stage); (3) tahap dua kata, satu frasa (the two – word stage); dan (4) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech).  c. Endnote Pada teknik endnote, nama pengarang diletakkan setelah bunyi kutipan atau dicantumkan di bagian akhir narasi, dengan ketentuan sebagai berikut. 1.  Membuat pengantar kalimat sesuai dengan keperluan 2.  Menampilkan kutipan, baik dengan kutipan langsung maupun kutipan tidak  langsung 3.  Menulis nama akhir pengarang tanpa koma, tahun terbit titik dua, dan nomor halaman di dalam kurung dan akhirnya diberi titik. Contoh : Ada aspek penguasaan pragmatik, anak dianggap sudah dapat berbahasa pada waktu ia mampu mengeluarkan kata-kata pertamanya, yaitu sekitar usia satu tahun. Akan tetapi sesungguhnya sejak masa-masa awal setelah kelahirannya anak mampu berkomunikasi dengan ibunya.Demikian juga orang-orang dewasa di lingkungannya pun memperlakukan anak seolah-olah sudah dapat berbicara (Spencer dan Kass, 1970 : 130).  BAB III SIMPULAN  Simpulan Menurut Mc Millan & Schumacher 1989 (dalam Emzir 2012: 5) penelitian adalah suatu proses sistematik pengumpulan dan penganalisisan informasi (data) untuk berbagai tujuan. Sedangkan Penulisan Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis atau peneliti, berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Dengan demikian, berdasrkan kedua devinisi tersebut bisa dikatakan, bahwa antara penelitian dan penulisan ilmiah memang suatu hal yang benar-benar tidak dapat dipisahkan, karena dengan suatu penelitian penulisan ilmiah dapat dilakukan dan terjadi sebuah hubungan yang bisa dikatakan sangat erat antara penelitian dan penulisan ilmiah. Tidak ada penulisan ilmiah tanpa adanya penelitian. Di dalam penelitian sendiri digunakan tiga pendekatan yaitu kuantitatif, kualitatif dan gabungan. Dimana penggunaan masing-masing pendekatan disesuaikan dengan bagaimana penelitian itu dilakukan. Begitu juga dalam penulisan ilmiah ada bagian-bagian penting yang menjadi dasar dalam penyusunan suatu penulisan ilmiah. Bagian-bagian tersebut harus dituliskan sesuai dengan prosedur yang baik dan benar. Adapun bagian-bagian dalam penelitian dan penulisan ilmiah yaitu: Pengajuan masalah, Penyusunan kerangka teoretis, Metodologi penelitian, Hasil penelitian Ringkasan dan kesimpulan  Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka pemakalah dapat menyarankan kepada semua pihak yaitu : 1. Di harapkan dalam proses penelitian dan penulisan ilmiah, untuk benar-benar memahami teknik serta cara penyusunan penulisan ilmiah yang benar supaya menghasilkan suatu tulisan ilmiah yang benar-benar bisa digunakan oleh semua pihak yang membutuhkan. 2.   DAFTAR PUSTAKA  Emzir. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2012. Djoko, Pranowo Dwijanto. Makalah Diklat Metode Penelitian Pengajaran Bahasa Prancis. FBS UNY. 2008. Jalaluddin. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2013. Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009. Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. 2010. Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2010. Wicaksono, Andre. Makalah Bahasa Indonesia Notasi Ilmiah.  file:///C:/Users/user/Desktop/materi%20presentasi%20filsafat%20ilmu/Andre%27s%20Blog%20%20MAKALAH%20BAHASA%20INDONESIA%20NOTASI%20ILMIAH.htm l (didownload pada 11 Mei 2014) Anonim. Handout Penelitian Pendidikan. 2006. http://fourseasonnews.blogspot.com/2013/01/pengertian-kerangka-berfikir.html  http://noordyah.wordpress.com/tugas-kuliah/penelitian-dan-penulisan-ilmiah/   (diakses tgl 15-05-14, pukul 14:27) http://www.m-edukasi.web.id/2012/12/penelitian-dan-penulisan-ilmiah.html (diakses tgl 15-05-14, pukul 14:48)  http://zulfikar68.blogspot.com/2013/05/penulisan-ilmiah-pengertian-penulisan.html  (diakses tgl 15-05-14, pukul 14:36)
 
PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
Oleh: Heri Indra Gunawan

BAB 1
PENDAHULUAN

Keberadaan manusia di muka bumi tidak akan pernah terlepas dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk mengetahui segala sesuatu. Rasa ingin mengetahui sesuatu inilah yang akan memunculkan pengetahuan pada diri manusia. Ketika manusia sudah memiliki pengetahuan, maka ia akan berusaha untuk dapat membuktikan kebenaran dari apa yang ia tahu. Dalam membuktikan kebenaran pengetahuannya, manusia melakukan penelitian-penelitian ilmiah. Penelitian ini dilakukan dengan berbagai macam cara, metode, teknik, dan juga dilaporkan dalam bentuk ilmiah.

Dari latar belakang mencari kebenaran dan adanya penelitian ilmiah, maka pemakalah berusaha menjelaskan apa itu penelitian dan bagaimana langkah-langkah, macam-macam penelitian, serta bagaimana cara penulisan hasil penelitian ilmiah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Penelitian dan Penulisan Ilmiah

1. Penelitian

Menurut Mc Millan & Schumacher 1989 (dalam Emzir 2012: 5) penelitian adalah suatu proses sistematik pengumpulan dan penganalisisan informasi (data) untuk berbagai tujuan. Sementara menurut Kerlinger 1990 (dalam Emzir 2012: 5) mendefinisikan penelitian ilmiah sebagai “penyelidikan sistematik, terkontrol, empiris, dan kritis tentang fenomena sosial yang dibimbing oleh teori dan hipotesis tentang dugaan yang berhubungan dengan fenomena tersebut.”

Menurut Creswell 2003 (dalam Emzir 2012: 9) ada tiga pendekatan dalam penelitian, yaitu pendekatan kualitatif, pendekatan kuantitatif, dan pendekatan metode gabungan. Istilah penelitian kualitatif pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kualitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamatan harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Penelitian kuantitatif melibatkan diri pada hitungan/angka/kuantitas. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.

2. Penulisan Ilmiah

Penulisan Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis/peneliti, berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Dari definisi yang lain dikatakan bahwa karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

Pada hakikatnya penulisan ilmiah bertujuan untuk:

a. Melatih seseorang untuk dapat menguraikan dan membahas suatu permasalahan secara ilmiah dan dapat menuangkannya secara ilmiah dan menuangkannya secara teoritis, jelas, sistematis dan metodologis.

b. Menumbuhkan etos ilmiah di masyarakat khususnya para mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.

c. Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara peneliti dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.

d. Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki seseorang/mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.

B. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah

Penulisan Ilmiah yang secara logis dan kronologis mencerminkan kerangka penalaran ilmiah. Kerangka penalaran ilmiah ini untuk membantu mempermudah penguasaan hal-hal yang bersifat teknis. Adapun langkah-langkah dalam penelitian ilmiah menurut (Jujun S. Suriasumantri, 2010: 309-341), adalah sebagai berikut:

1. Pengajuan masalah, mencangkup:

a. Latar belakang masalah,

b. Identifikasi masalah

c. Pembatasan masalah

d. Perumusan masalah

e. Tujuan penelitian

f. Keguanan penelitian.


2. Penyusunan kerangka teoretis meliputi:

a. Pengkajian teori-teori ilmiah yang akan digunakan dalam analisis

b. Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan

c. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis

d. Perumusan hipotesis.


3. Metodologi penelitian mencangkup:

a. Tujuan penelitian secara lengkap dan operasional dalam bentuk pernyataan yang mengidentifikasi variabel-variabel dan karakteristik yang akan diteliti;

b. Tempat dan waktu penelitian di mana akan dilakukan generalisasi mengenai variabel-variabel yang akan diteliti;

c. Metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisasi yang diharapkan;

d. Teknik pengambilan contoh yang relevan dengan tujuan penelitian, tingkat keumuman dan metode penelitian;

e. Teknik pengumpulan data yang mencangkup identifikasi variabel yang akan dikumpulkan, sumber data, teknik pengukuran, instrumen dan teknik mendapatkan data;

f. Teknik analisis data yang mencangkup langkah-langkah dan teknik analisis yang dipergunakan yang ditetapkan berdasarkan pengajuan hipotesis (sekiranya mempergunakan statistika maka tuliskan hipotesis nol dan hipotesis perbandingan: Hâ‚’ / H1).

4. Hasil penelitian yang menyatakan: variabel-variabel yang diteliti, teknik analisis data, deskripsi hasil penelitian, penafsiran terhadap kesimpulan analisis data.


5. Ringkasan dan kesimpulan, yang mencangkup:

a. Deskripsi singkat mengenai masalah, kerangka teoretis, hipotesis, metodologi, dan penemuan penelitian;

b. Kesimpulan penelitian yang merupakan sintesis berdasarkan keseluruhan aspek tersebut;

c. Pembahasan kesimpulan dengan melakukan perbandingan terhadap penelitian lain dan pengetahuan ilmiah yang elevan;

d. Mengkaji implikasi penelitian;

e. Mengajukan saran.

C. Teknik Penulisan Ilmiah

Tujuan utama menulis karangan ilmiah atau karya ilmiah ialah agar karangan tersebut dibaca. Namun, dalam menuliskan suatu karya ilmiah yang baik, tahap demi tahap dimulai dari judul sampai daftar pustaka diperlukan konsentrasi penuh dari penulis. Dua ciri karangan ilmiah yang harus dipenuhi. Pertama, isi karangan ilmiah. Kedua, gaya menulis maksud tersebut (David Linsday 1986: 1, dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan Jalaluddin 2013: 181).

Jujun S. Suriasumantri, menambahkan bahwa teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek, yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah, serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber pengetahuan ilmiah yang digunakan dalam penulisan (Jujun S. Suriasumantri, 2010: 347). Penggunaan bahasa dan istilah yang rumit membuat komunikasi terhalang. Padahal, maksud dari tulisan ilmiah ialah mengomunikasikan informasi ilmiah baru kepada ilmuwan lainnya.

Adapun aspek pertama, yakni gaya penulisan berhubungan dengan banyak faktor kemampuan bahasa tulisan, sekaligus tingkat kecerdasan intelektualitas seseorang. Menurut kohnstam,(dalam Jalaluddin 2013: 181-182) kemampuan berbahasa terkait dengan kecerdasan seseorang. Seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi akan mampu menginformasi dan mengomunikasikan buah pikirannya secara sistematis dan runtut dalam bahasa tulisan. Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Somerset Maugham (dalam Jalaluddin 2013: 182), bahwa seorang yang pikirannya semerawut akan menulis secara semerawut pula.

Bahasa yang dipergunakan harus jelas di mana pesan mengenai objek yang ingin dikomunikasikan mengandung informasi yang disampaikan sedemikian rupa sehingga sipenerima betul-betul mengerti akan isi pesan yang disampaikan kepadanya.

Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sebuah kalimat yang tidak bisa diidentifikasikan mana yang merupakan subjek dan mana yang merupakan predikat serta hubungan yang terkait antara subjek dan predikat kemungkinan besar akan merupakan informasi yang tidak jelas. Dalam menulis karangan ilmiah penggunaan kata harus dilakukan secara tepat artinya kita harus memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan apa yang ingin disampaikan.

Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bahwa sipenerima pesan mendapatkan kopi yang benar-benar sama dengan prototipe yang disampaikan sipemberi pesan, seperti fotokopi. Dalam komunikasi ilmiah tidak boleh terdapat penafsiran yang lain selain isi yang dikandung oleh pesan tersebut, sedangkan dalam komunikasi estetik sering terdapat penafsiran yang berbeda terhadap objek komunikasi yang sama, yang disebabkan oleh penjiwaan yang memang tidak ditujukan kepada penjiwaan melainkan kepada penalaran dan oleh sebab itu harus dihindarkan bentuk pernyataan yang tidak jelas atau bermakna jamak.

D. Kajian Teori & Kerangka Teori

1. Definisi

Dalam KBBI, teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi; penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi. Menurut Snelbecker (dalam Moleong 2009: 57) definisi teori adalah seperangkat proposisi yang berinteraksi secara sintaksi (yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis dengan lainnya dengan data atas dasar yang dapat diamati) dan berfungsi sebagai wadah untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati. Sedangkan menurut Glaser & Strauss 1967 (dalam Moleong 2009: 57) menyatakan teori berasal dari data dan yang diperoleh secara analitis dan sistematis melalui metode komparatif.


2. Kegunaan/fungsi Teori

Secara umum, ada tiga fungsi teori, yaitu: untuk (1) menjelaskan (explanation), (2) meramalkan (prediction), dan (3) pengendalian (control) suatu gejala. Sedangkan menurut Snelbecker (dalam Moleong 2009: 57-58), fungsi teori yaitu:

1) Mensistematiskan penemuan-penemuan penelitian

2) Menjadi pendorong untuk menyusun hipotesis dan dengan hipotesis membimbing peneliti mencari jawaban

3) Membuat ramalan atas dasar penemuan

4) Menjelaskan penjelasan dan dalam hal ini, untuk menjawab pertanyaan mengapa.

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang akan diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian.


3. Deskripsi Teori

Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variabel independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan dengan variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang dikemukakan.

Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan, dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.

Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:

1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya

2. Cari sumber-sumber bacaan yang banyak dan relevan dengan setiap variabel yang diteliti.

3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian lihat penelitian permasalahan yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis dan saran yang diberikan.

4. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, kemudian bandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.

5. Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan variabel yang akan diteliti lakukan analisis, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.


E. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir berbeda dengan sekumpulan informasi atau hanya sekedar sebuah pemahaman. Lebih dari itu kerangka berpikir adalah sebuah pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran selanjutnya. Untuk mendapatkan sebuah kerangka berpikir tentang suatu hal, bukanlah sesuatu yang mudah. Diperlukan suatu pemikiran yang mendalam, tidak hanya menyimpulkan dari fakta yang dapat terindra, atau hanya dari informasi-informasi yang terpenggal. Selain itu diperlukan sebuah pemikiran yang cerdas dan cemerlang akan setiap informasi yang dimilikinya dan berupaya dengan keras menyimpulkan suatu kesimpulan yang memunculkan keyakinan.

Definisi Kerangka menurut KBBI adalah rangka; garis besar; rancangan; prinsip atau konsep ilmiah yang digunakan dalam penelitian sebagai dasar analisis data. Kerangka pikir merupakan intisari dari teori yang telah dikembangkan dan mendasari perumusan hipotesis. Teori yang telah dikembangkan dalam rangka memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah yang menyatakan hubungan antar variabel berdasarkan pembahasan teoritis.

Kerangka berpikir adalah serangkaian konsep dan kejelasan hubungan antar konsep tersebut yang dirumuskan oleh peneliti berdasar tinjauan pustaka, dengan meninjau teori yang disusun dan hasil-hasil penelitian yang terdahulu yang terkait. Kerangka berpikir ini digunakan sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diangkat. Atau, bisa diartikan sebagai mengalirkan jalan pikiran menurut kerangka logis (construct logic) atau kerangka konseptual yang relevan untuk menjawab penyebab terjadinya masalah. Untuk membuktikan kecermatan penelitian, dasar dari teori tersebut perlu diperkuat dengan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan. Kerangka berpikir penting untuk membantu dan mendorong peneliti memusatkan usaha penelitiannya untuk memahami hubungan antar variabel tertentu yang telah dipilihnya, mempermudah peneliti memahami dan menyadari kelemahan/keunggulan dari penelitian yang dilakukannya yang dibandingkan dengan penelitian terdahulu.

Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lainnya. Kerangka berpikir merupakan penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan. Kriteria utama agar suatu kerangka berpikir bisa meyakinkan ilmuwan, adalah alur-alur pemikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berpikir merupakan sintesa tentang hubungan antara variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antara variabel penelitian. Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis. Dalam merumuskan hipotesis, setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berpikir yang benar dan peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar menyusun kerangka berpikirnya.

Berpikir ilmiah terangkai secara sistematis, dalam suatu kerangka yang terdiri dari: penalaran, logika, analitis, konseptual, dan kritis. Proses berpikir ilmiah terbangun oleh kerangka utama ini. Dengan demikian, berpikir bisa dikategorikan sebagai ilmiah, bila prosesnya mengikuti rangkaian kerangka tersebut.

1. Penalaran

Penalaran berarti berpikir dengan menggunakan nalar (rasio). Diartikan pula sebagai cara berpikir yang logis, yang mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman. Penalaran merupakan langka pertama dalam rangkaian berpikir ilmiah.

Karakteristik utama dalam penalaran ilmiah adalah:

a. Dilakukan dengan sadar

b. Bertujuan mencapai kebenaran ilmiah

c. Bersifat rasional/empiris

d. Sistematis/analisis

e. Kesimpulan yang dihasilkan tidak mempunyai kebenaran mutlak

dan menurut John Dewey proses penalaran mencangkup:

a. Mengenali dan merumuskan masalah

b. Menyusun kerangka berpikir

c. Perumusan hipotesis

d. Menguji hipotesis

e. Menarik kesimpulan.

Dalam kerangka berpikir ilmiah, alur pikiran selalu didasarkan pada proses penalaran. Adapun dalam prosesnya, bernalar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bernalar induktif dan bernalar deduktif. Penalaran induktif adalah proses berpikir berdasarkan hasil inderawi mengenai sesuatu yang bersifat khusus ke arah kesimpulan yang berlaku umum untuk keseluruhan. Berpikir induktif adalah logika berpikir yang bergerak dari hal-hal khusus untuk kemudian menggeneralisasikannya menjadi hal-hal yang umum. Sedangkan dalam penalaran deduktif, kesimpulan ditarik dari pernyataan yang berisi pengetahuan. Pengetahuan tersebut dapat berupa prinsip, teori, dalil atau pernyataan lain yang telah dimiliki umum mengenai suatu hal. Dengan demikian proses penalaran deduktif bergerak dari pernyataan dasar yang umum ke kesimpulan khusus.

2. Logika

Bila penalaran lebih mengacu pada proses dan alur pikiran, maka logika lebih kepada produk pemikiran itu sendiri. Logika mengkaji kriteria untuk menentukan kebenaran pernyataan atau argumen. Dengan demikian, logika dihubungkan dengan proses menarik kesimpulan menurut cara tertentu, agar diperoleh suatu kesimpulan yang valid.

3. Analisis

Analisis berasal dari bahasa Yunani analysein yang berarti “melonggarkan” atau “memisahkan”. Analisis juga diartikan sebagai penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan (KBBI, 2008: 58). Menurut Jujun S. Suriasumantri, analisis adalah kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Proses berpikir ilmiah tidak terhenti pada penampilan logika induktif dan deduktif. Untuk memperoleh sebuah kesimpulan, yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan kedua logika tersebut perlu dianalisis.

4. Konsepsional

Proses berpikir ilmiah bersifar konsepsional yaitu atas dasar dan mengacu kepada konsep tertentu. Secara etimologis, konsep itu sendiri diartikan sebagai: 1) rancangan atau buram surat dsb; 2) ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret (KBBI, 2008: 724). Jadi dapat dikatakan bahwa konsep merupakan definisi yang dipakai untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena sosial atau fenomena alami.

5. Kritis

Kritis dapat diartika sebagai: 1) bersifat tidak lekas percaya; 2) bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; 3) tajam dalam penganalisisan (KBBI, 2008: 742). Bersikap ataupun berpikir kritis merupakan bagian dari rasa ingin tahu manusia. Dari rasa ingin tahu ini selanjutnya manusia mengamati, memilah, memilih, apa yang ingin diketahuinya secara lebih mendalam dengan cara menganalisis melalui berpikir kritis.

F. Pengajuan Hipotesis

1. Definisi Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian yang perlu diuji kebenarannya secara empirik. Istilah diuji mengandung arti bahwa hipotesis tidak perlu dibuktikan sebagai sesuatu yang benar atau salah, melainkan apakah bisa diterima atau ditolak. Hipotesis bisa diterima, jika didukung oleh fakta empirik. Sedangkan jika hipotesis itu tidak didukung oleh bukti empirik, maka hipotesis itu dinyatakan ditolak dan bukan dinyatakan salah.

2. Ciri-ciri Hipotesis

Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang memiliki ciri-ciri berikut ini :

a. Berinduk pada teori, artinya hipotesis mempunyai kaitan dengan teori-teori yang berlaku dalam suatu ilmu pengetahuan dan dapat dikomunikasikan dengan ilmu pengetahuan.

b. Dapat diuji, artinya memungkinkan dapat diukur dan berdasarkan bukti-bukti empirik.

c. Sederhana, artinya jika variabel yang diteliti mempunyai banyak level, maka disusun sub-sub hipotesis yang masing-masing berkenaan dengan satu level atau dapat pula dinyatakan bahwa hipotesis harus spesifik.

d. Dirumuskan dalam bentuk pernyataan (deklaratif) dan bukan dalam bentuk pertanyaan.

e. Berdaya ramal, artinya hipotesis mempunyai tingkat perkiraan jawaban yang tepat atau mempunyai sejumlah fakta yang diperkirakan terdapat pada hipotesis.


3. Jenis-Jenis Hipotesis.

a. Hipotesis Kerja

Rumusan hipotesis kerja ditandai dengan rumusan yang merujuk kepada :

a. Perbedaan antara dua hal atau lebih.

b. Hubungan antara dua hal atau lebih.

Contoh :

Terdapat perbedaan sikap antara penduduk kota dengan penduduk desa terhadap wajib belajar pendidikan dasar.

Terdapat hubungan yang berarti antara perlakuan pemimpin terhadap bawahannya dengan tanggungjawab kerja bawahannya.

Penggunaan kedua model tersebut tergantung dari masalah penelitian yang akan diteliti.


b. Hipotesis Nol

Hipotesis nol menunjukkan kebalikan dari hipotesis kerja. Hipotesis nol menolak secara eksplisit apa yang dinyatakan di dalam hipotesis kerja. Hipotesis nol merujuk kepada tidak adanya hubungan atau perbedaan.

Contoh :

Tidak terdapat perbedaan sikap antara penduduk kota dengan penduduk desa terhadap wajib belajar pendidikan dasar.q

q Tidak terdapat hubungan yang berarti antara perlakuan pemimpin terhadap bawahannya dengan tanggungjawab kerja bawahannya.


c. Hipotesis Statistik

Hipotesis statistik merupakan transformasi dari hipotesis kerja maupun hipotesis nol. Tujuan perumusan hipotesis statistik adalah untuk menjelaskan parameter apa dari populasi yang hendak diuji.

Misal :

Terdapat perbedaan sikap antara penduduk desa dan penduduk kota terhadap wajib belajar pendidikan dasar. Maka statistik yang akan diuji untuk menyimpulkan populasinya adalah statistik rata-rata (Mean)

Simbolnya adalah :


4. Fungsi Hipotesis.

a. Menguji teori, artinya berfungsi untuk menguji kesahihan teori. Pernyataan teori dalam bentuk yang teruji disebut hipotesis. Teori adalah satu satu prinsip yang dirumuskan untuk menerangkan sekelompok gejala/peristiwa yang saling berkaitan. Teori menunjukkan adanya hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain.

b. Menyarankan teori baru, apabila hasil pengujian hipotesis dapat membentuk proposisi, asumsi atau penjelasan tentang suatu peristiwa.

c. Mendeskripsikan fenomena sosial, artinya hipotesis memberikan informasi kepada peneliti tentang apa yang nyata-nyata terjadi secara empirik.


G. Teknik Notasi Ilmiah

1. Definisi Notasi Ilmiah

Menurut KBBI, pengertian notasi adalah sistem lambang (tanda) yang menggambarkan bilangan nada-nada dan ujaran. Proses pelambangan, nada atau ujaran dengan tanda (huruf), catatan pendek yang perlu diketahui atau diingat. Sedangkan ilmiah adalah bersifat ilmu,. Secara ilmu pengetahuan. Jadi notasi ilmiah adalah ilmu tentang sistem lambang (tanda) yang menggambarkan bilangan nada atau ujaran dengan tanda huruf.


2. Teknik-Teknik Notasi Ilmiah

Ada tiga teknik yang popular yang banyak digunakan di berbagai perguruan tinggi baik PTN maupun PTS, yakni sebagai berikut:

a. Footnote

Footnote adalah catatan pada kaki halaman untuk menyatakan sumber kutipan, pendapat buah pikiran, fakta-fakta, atau ikhtisar. Footnote dapat juga brisi komentar mengenai suatu hal yang dikemukakan di dalam teks, seperti keterangan wawancara, pidato di televisi, dan yang sejenisnya. Gelar akademik dan gelar kebangsawanan tidak disertakan serta nama pengarang atau penulis tidak dibalik.

Penulisan nomor pada footnoted sesuai dengan nomor kutipan dengan menggunakan angka Arab, yaitu angka yang berasal dari ejaan Arab yang sekarang menjadi ejaan internasional (1,2,3, dan seterusnya) yang diketik naik setengah spasi. Footnote pada tiap bab diberi nomor urut, mulai dari angka 1 sampai dengan selesai dan dimulai dengan nomor satu lagi pada bab-bab berikutnya.

Urutan Penulisan footnote antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi yang lain berbeda karena pada umumnya, karena setiap perguruan tinggi memiliki pedoman penulisan masing-masing.

Footnote yang merupakan rujukan ditulis berdasarkan cara berikut ini.

1. Nama pengarang tanpa dibalik urutannya, diikuti koma.

2. Jika nama dalam tertulis lengkap disertai gelar akademis, catatan kaki mencantumkan gelar tersebut.

3. Judul karangan dicetak miring tidak diikuti koma

4. Nama penerbit dan angka tahun diapit tanpa kurung dikuti koma.

5. Nomor halaman dapat disingkat hlm atau h. Angka nomor halaman diakhiri titik (.).

Contoh-contoh footnote

1. Footnote diambil dari buku :

1 Andrew Spencer, Morphological Theory: An Introduction to Word Strucuture in Generative Grammar, (Cambridge, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1993), hlm. 81.


2. Footnote dari majalah

2 Ahmad Ta’rifin, “Menimbang Paradigma Liberalisme dalam Praktik Persekolahan” (Pekalongan: Forum Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam STAIN Pekalongan, No. 1 Juni, III, 2005), hlm. 123.


3. Footnote dari surat kabar

3 Rokhmah Sugiarti, “Meluruskan Mitos Jari-jari Perempuan” (Semarang: Suara Merdeka, 29 Mei 2000), hlm. 7.


4. Footnote dari makalah

4 Din Syamsuddin, “Peranan Golkar dalam Pendidikan Politik Bangsa”, Makalah Disampaikan dalam Seminar Nasional Peranan Pendidikan Islam dalam Pendidikan Politik di Indonesia yang Diselenggarakan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 19-21 Mei 1996.


5. Karangan yang tidak diterbitkan, seperti skripsi, tesis, dan disertasi

5 Afdol Tharik Wastono, “Kongruensi dan Reksi dalam Bahasa Arab” (Jakarta: Tesis Magister umaniora, Perpustakaan UI, 1997), hlm. 82.


6. Pidato di televisi

6 Penjelasan A. Latief dalam siaran Pembinaan Bahasa Indonesia melalui TVRI, Selasa, 4 Agustus 1987 pukul 20.35 WIB.


b. Innote

Pada teknik ini, sumber kutipan ditulis atau diletakkan sebelum bunyi kutipan atau diletakkan dalam narasi atau kalimat sehingga menjadi bagian dari narasi atau kalimat. Pada innote ketentuannya adalah sebagai berikut.


1. Membuat pengantar kalimat sesuai dengan keperluan

2. Menulis nama akhir pengarang

3. Mencantumkan tahun terbit, titik dua, dan nomor halaman di dalam kurung

4. Menampilkan kutipan, baik dengan kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung.

Contoh :

Perkembangan bahasa merupakan hal yang sangat urgen dalam tahap perkembangan jiwa anak, menurut Yule (1996: 178 – 180), perkembangan bahasa dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu (1) tahap pralinguistik (pre-language Stages); (2) tahap satu kata, satu frasa (the one-word or holophrastic, stage); (3) tahap dua kata, satu frasa (the two – word stage); dan (4) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech).


c. Endnote

Pada teknik endnote, nama pengarang diletakkan setelah bunyi kutipan atau dicantumkan di bagian akhir narasi, dengan ketentuan sebagai berikut.

1. Membuat pengantar kalimat sesuai dengan keperluan

2. Menampilkan kutipan, baik dengan kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung

3. Menulis nama akhir pengarang tanpa koma, tahun terbit titik dua, dan nomor halaman di dalam kurung dan akhirnya diberi titik.

Contoh :

Ada aspek penguasaan pragmatik, anak dianggap sudah dapat berbahasa pada waktu ia mampu mengeluarkan kata-kata pertamanya, yaitu sekitar usia satu tahun. Akan tetapi sesungguhnya sejak masa-masa awal setelah kelahirannya anak mampu berkomunikasi dengan ibunya.Demikian juga orang-orang dewasa di lingkungannya pun memperlakukan anak seolah-olah sudah dapat berbicara (Spencer dan Kass, 1970 : 130).


BAB III

SIMPULAN

Simpulan

Menurut Mc Millan & Schumacher 1989 (dalam Emzir 2012: 5) penelitian adalah suatu proses sistematik pengumpulan dan penganalisisan informasi (data) untuk berbagai tujuan. Sedangkan Penulisan Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis atau peneliti, berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Dengan demikian, berdasrkan kedua devinisi tersebut bisa dikatakan, bahwa antara penelitian dan penulisan ilmiah memang suatu hal yang benar-benar tidak dapat dipisahkan, karena dengan suatu penelitian penulisan ilmiah dapat dilakukan dan terjadi sebuah hubungan yang bisa dikatakan sangat erat antara penelitian dan penulisan ilmiah. Tidak ada penulisan ilmiah tanpa adanya penelitian.

Di dalam penelitian sendiri digunakan tiga pendekatan yaitu kuantitatif, kualitatif dan gabungan. Dimana penggunaan masing-masing pendekatan disesuaikan dengan bagaimana penelitian itu dilakukan. Begitu juga dalam penulisan ilmiah ada bagian-bagian penting yang menjadi dasar dalam penyusunan suatu penulisan ilmiah. Bagian-bagian tersebut harus dituliskan sesuai dengan prosedur yang baik dan benar. Adapun bagian-bagian dalam penelitian dan penulisan ilmiah yaitu: Pengajuan masalah, Penyusunan kerangka teoretis, Metodologi penelitian, Hasil penelitian Ringkasan dan kesimpulan

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas maka pemakalah dapat menyarankan kepada semua pihak yaitu :

1. Di harapkan dalam proses penelitian dan penulisan ilmiah, untuk benar-benar memahami teknik serta cara penyusunan penulisan ilmiah yang benar supaya menghasilkan suatu tulisan ilmiah yang benar-benar bisa digunakan oleh semua pihak yang membutuhkan.


DAFTAR PUSTAKA

Emzir. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2012.

Djoko, Pranowo Dwijanto. Makalah Diklat Metode Penelitian Pengajaran Bahasa Prancis. FBS UNY. 2008.

Jalaluddin. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2013.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009.

Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. 2010.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2010.

Wicaksono, Andre. Makalah Bahasa Indonesia Notasi Ilmiah. file:///C:/Users/user/Desktop/materi%20presentasi%20filsafat%20ilmu/Andre%27s%20Blog%20%20MAKALAH%20BAHASA%20INDONESIA%20NOTASI%20ILMIAH.htm l (didownload pada 11 Mei 2014)

Anonim. Handout Penelitian Pendidikan. 2006.

http://fourseasonnews.blogspot.com/2013/01/pengertian-kerangka-berfikir.html

http://noordyah.wordpress.com/tugas-kuliah/penelitian-dan-penulisan-ilmiah/ (diakses tgl 15-05-14, pukul 14:27)

http://www.m-edukasi.web.id/2012/12/penelitian-dan-penulisan-ilmiah.html (diakses tgl 15-05-14, pukul 14:48)

http://zulfikar68.blogspot.com/2013/05/penulisan-ilmiah-pengertian-penulisan.html (diakses tgl 15-05-14, pukul 14:36)

Silahkan masukan e-mail Anda sekarang, untuk mendapatkan update artikel terbaru (Gratis!):

Delivered by FeedBurner

1 Response to "PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH"

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.