KBBI- Sahabat setia gurungapak dimanapun berada. Senang sekali rasanya dan bangga tentunya kita di lahirkan sebagai warga negara Indonesia. Indonesia memiliki segudang kekayaan alam yang melimpah diikuti dengan potensi sumber daya manusia yang semakin modern dan maju di semua bidang.Tak heran banyak negara lain merasa iri dengan apa yang Indonesia miliki.
Selain itu, Indonesia memiliki suku, budaya, adat istiadat yang berbeda-beda, namun mampu hidup secara berdampingan tanpa adanya diskriminasi satu dengan yang lainnya, hal ini dikarenakan adanya rasa persatuan yang tinggi dengan didasari Binika Tungga Ika dan membentuk satu negara bernama Indonesia.
Bahasa Indonesia menjadi pemersatu perbedaan itu, menjadikan suatu hal yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin dimengerti. Menyatukan seluruh keanekaragaman dari Sabang sampai Merauke.Bahasa Indonesia sebagai kunci dalam komunikasi yang notabene merupakan bahasa negara pemersatu rakyat Indonesia.
Perjalanan panjang sejarah bahasa Indonesia sudah pernah kita bahas pada artikel yang lalu, yang pastinya penuh dengan problem sebelum bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi yang digunakan di Indonesia. Silahkan bila ingin membaca sejarah bahasa Indonesia bisa di baca di bawah ini.
Kembali ke topik pembahasan mengenai Perjalanan Sejarah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Indonesia telah beberapa kali menerbitkan kamus resmi yang disusun oleh badan pengembangan dan pembinaan bahasa. Kamus Besar bahasa Indonesia, sudah beberapa kali mengeluarkan edisi cetakan yang tentunya kosa katanya semakin kompleks mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju dan modern.
Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia bahwa pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kamus ekabahasa resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kamus ini menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia yang baku, karena kamus ini merupakan kamus bahasa Indonesia terlengkap dan yang paling akurat yang pernah diterbitkan oleh penerbit yang memiliki hak paten dari pemerintah Republik Indonesia yang dinaungi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Sebagai acuan tertingi Bahasa Indonesia yang baku dan telah mendapatkan hak paten dari pemerintah maka penerbit berhak untuk merevisi dan mengeluarkan kamus dengan edisi baru yang tentunya jauh lebih baik yang disertai keterangan ringkas seperti kelas katanya, etimologinya dan lafalnya. Judul lema dapat berupa kata dasar, kata berimbuhan, kata berulang, kata majemuk, frasa atau akronim dan itulah yang dijelaskan dalam batang tubuh kamus. Lema juga dapat diartikan sebagai butiran masukan atau entri.
Sejarah penerbitan kamus besar bahasa Indonesia sendiri sudah beberapa kali mengalami penerbitan dari edisi pertama, edisi kedua, edisi ketiga, edisi keempat dan terakhir ini adalah edisi kelima.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Pertama terbit pada tahun 1988 dan mengalami tiga kali revisi yang bersumber dari pengembangan Kamus Bahasa Indonesia terbitan tahun 1983. Pengembangan ini didasari atas lema yang terdapat dalam kamus terbitan 1983 yang baru memuat 62.100 lema.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua terbit pada tahun 1991. Kamus edisi kedua ini jelas sudah mengalami berbagai macam perubahan yang semula pada kamus terbitan 1988 memuat 62.100 lema pada edisi kedua ini sudah semakin banyak lemanya. Lema pada edisi kedua ini berjumlah 72.000 lema, yang berarti semakin banyak dan berkembangnya kosakata Bahasa Indonesia.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga terbit pada tahun 2005. Kamus edisi ketiga ini memuat 78.000 lema. Semakin bertambah tentunya kemajuan kosakata Bahasa Indonesia baik dari bahasa serapan daerah maupun bahasa serapan istilah asing. Pada edisi ketiga ini masih banyak banyak sekali kosa kata yang belum masuk. Tetapi harap diingat bahwa KBBI adalah Kamus Umum berisi kosakata umum, sehingga dalam kamus tidak termasuk berbagai istilah. Untuk penggunaan kamus bidang ilmu tertentu Pusat Bahasa juga memiliki kamus Istilah. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Dosen Linguistik saya sewaktu kuliah di Universitas Prof.Dr. Hamka (UHAMKA Jakarta) Prof. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, yang baru-baru ini mendapatkan gelar profesor. (Selamat Prof)
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat terbit pada tahun 2008. Pada edisi keempat ini memuat lebih dari 90.000 lema. Jelas sebuah peningkatan yang baik bagi kemajuan Bahasa Indonesia. Pada edisi ini KBBI diperkaya kosakata yang berasal dari kamus istilah, pada edisi ini kamus disusun berdasarkan paradigma. Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual. Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin pada tahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk "membandingkan", "bersebelahan" (para) dan memperlihatkan (deik).
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima terbit pada tahun 2016. Edisi kelima resmi diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy pada 28 Oktober 2016 . Pada edisi ini, KBBI memuat 127.036 lema yang versi cetaknya setebal 2.040 halaman, hampir dua kali lipat versi sebelumnya, 1.400-an halaman. Semakin pesatnya kemajuan kosakata bahasa Indonesia yang pastinya selalu diperhatikan oleh Pusat Bahasa Indonesia membuat kamus ini semakin kompleks dan semakin baik.
Sedikit catatan mengenai Pusat Bahasa. Bahwa pusat bahasa merupakan sebuah lembaga yang berhubungan dengan bahasa tentnya, dan pusat bahasa sendiri adalah sebuat tim yang juga bertugas untuk menyusun kamus. Awal berdirinya Pusat Bahasa adalah tahun 1947 yang didirikan oleh Pemerintah Indonesia. Pusat Bahasa bertugas untuk menangani pengelolaan bahasa dan sastra di Indonesia. Selama Pusat Bahasa beridri, badan ini telah enam kali berganti nama. Awalnya menggunakan nama belanda “Instituut voor Taal en Cultuur Onderzoek”. Nama ini dirasa kontradiktif dengan nasionasionalisme visi misi lembaga ini. Maka nama Belanda tersebut diganti sampai enam kali. Urutan perubahan nama Pusat Bahasa sendiri adalah Lembaga Bahasa dan Budaya (1952), kemudian berganti Lembaga Bahasa dan Kesusasteraan (1959), Direktorat Bahasa dan Kesusasteraan (1966), Lembaga Bahasa Nasional (1969), Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1975), sampai kembali lagi ke Pusat Bahasa (2000).
Begitulah secara singkat mengenai perjalanan sejarah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tentunya menambah kebanggaan kita sebagai warga negara Indonesia karena semakin berkembangnya tata bahasa dan kosakata Indonesia. Kita harus bangga dengan ini semua. bahasa Indonesia juga dipakai diberbagai negara di dunia, bahkan menjadi bahasa kedua di Vietnam. Semakin bangga dong kita. Untuk menambah bangga simak artikel berikut ini.
Semoga bermanfaat. Salam bahasa persatuan dan pastinya salam gurungapak!
Meskipun saat ini dipahami oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia tidak menduduki posisi sebagai bahasa ibu bagi mayoritas penduduknya. Sebagian besar warga Indonesia berbahasa daerah sebagai bahasa ibu.
ReplyDeleteHal tersebut dikarenakan beragamnya bahasa daerah yang ada di Indonesia. Meskipun demikian, fungsi Bahasa Indonesia sendiri menduduki tempat penting yakni sebagai bahasa pemersatu perbedaan diantara farian bahasa yang ada di Nusantara. Jadi dapat disimpulkan dengan adanya bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa ibu, maka penduduk Indonesia memiliki kemampuan multibahasa (Bahasa Indonesia dan bahasa Daerah). Belum lagi apabila mempelajari bahasa Internasional ataupun bahasa negara tertentu. dibandingkan dengan negara lain yang tidak memiliki bahasa negara sendiri ataupun hanya memakai satu bahasa saja dinegaranya. Pastilah menambah kebanggaan kita sebagai orang Indonesia yang rata-raa penduduknya menguasai lebih dari 1 bahasa bahkan lebih.
ReplyDeleteSaya tertarik dengan tulisan anda mengenai sastra
ReplyDeleteSaya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
Lembaga Pengembangan Sastra
beli dimana ya kbbi edisi ke lima...sy cari belum dapat
ReplyDelete