Dua Orang Sahabat
Karya AA.Navis
Postingan sebelumnya sudah di tuliskan beberapa cerpen karya AA.Navis yang lain yakni, Robohnya Surau Kami, Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi dan kali ini karya beliau yang saya tuliskan disini ialah Dua Orang sahabat. Kita tentunya memiliki sahabat, dia selalu ada saat suka maupun duka, tempat untuk mencurahkan segala rasa yang kita rasakan, cerpen Dua Orang Sahabat juga begitu, dari pada penasaran kita baca saja yah.
Seperti sudah dijanjikan, dua orang lelaki bertemu di jempatan beton dekat
simpang tiga depan kantor pos. Yang satu kekar dan yang lain kurus. Keduanya
sama mendekatkan arloji ke mata, seolah hendak tahu apa mereka tiba tepat
waktu. Ketika itu malam belum lama tiba. Hujan yang turun sedari sore, tinggal
renyai. Malam menjadi kian gelap dan lebih dingin hawanya. Salah seorang
mengenakan mantel hujan. Yang lain bermantel plastik transparan. Kerah mantel-
nya sama ditinggikan sampai menutup telinga. Kepala si ke- kar ditutupi oleh
baret abu-abu. Si kurus oleh topi mantel. Sedangkan tangannya sama membenam
jauh ke dalam saku celana. Mereka berjalan ke arah timur dengan setengah
membungkuk, mengelakkan dingin dan tiupan angin malam. Tak seorangpun yang
berbicara.
Nyala lampu jalan
yang bergoyang-goyang ditiup angin itu, redup cahayanya. Dibendung oleh kabut
yang biasa turun di kota pegunungan itu. Jalan itu lengang seperti kota
ditinggalkan penduduk karena ada ancaman bencana. Hanya bayangan kedua orang
yang terangguk-angguk itu saja yang kelihatan. Ketika mereka sampai di suatu
simpang, si kekar bertanya tanpa menoleh: "Kemana kita?"
"Terserah
kau." jawab si kurus gersang.
Lalu yang kekar
membelok ke kiri. Seperti itik jalan sekandang, si kurus juga membelok.
Sekarang jalan yang mereka tempuh mendaki. Tapi mereka tidak melambatkan
langkah. Sehingga mereka seperti tambah terbungkuk-bungkuk dan kepalanya sama
terangguk pada setiap kaki dilangkahkan. Jalan itu lebih gelap oleh kerimbunan
pohon-pohon di kiri- kanannya. Dan kaki mereka sering terperosok ke lobang di
jalan aspal yang telah lama tidak diperbaiki. Keduanya dengan pikiran
masing-masing. Hanya derapan sepatu yang solnya sudah lembab yang meningkahi
nyanyian hewan malam.
"Gila. Dia
berani. Sekali aku pukul, pasti klenger." kata si kekar dalam
hatinya.
"Orang bertubuh
besar, kekar, bangga dengan otot. Tapi tidak punya otak. Dan kalau kaya,
sombong. Tidak punya perasaan." kata si kurus dalam hatinya juga.
"Mengapa dia
berani? Apa dia punya ilmu? Ilmu apa? Ah, ilmu. Kalau orang Indonesia punya
ilmu, tidak akan bisa Belanda lama-lama menjajah negeri ini. Tapi dia ini punya
ilmu apa?" kata si kekar lagi pada dirinya.
"Homo homini
lupus, kata Hobbes. Itu benar. Tapi tidak selamanya." kata si kurus.
"Karena orang kecil punya otak. Harus cerdik. Sejarah mengatakannya
begitu." kata si kurus masih dalam hati.
"Aku pecah
kepalanya sampai otaknya berderai. Biar bangkainya tahu, jangan coba-coba
melawan aku." kata si kekar pula.
Kini mereka melalui
jalan yang mendatar sesudah membelok ke kanan lagi. Langkah mereka seperti
tertegun ketika mulai melalui jalan yang datar itu. Napasnya sama menghem- bus
panjang, bagai mau melepaskan hengahan payah. Lalu mereka melintasi jalan lebar
yang bersimpang. Tiba-tiba sebuah jip militer datang dari arah kanan. Si kekar
buru- buru menepi. Tapi si kurus tidak peduli. Dia tidak meng- hindar. "Kamu
mau mati, hah?" bentak pengendera jip itu dengan iringan sumpah
serapah.
Si kurus berdiri
sambil menatap ke arah jip yang lewat tidak lebih setengah meter darinya.
Katanya dalam hati: "Sama saja watak kalian. Tidak beretika. Tidak
bermoral."
Rumah-rumah di kedua
pinggir jalan itu sudah jarang le- taknya. Listrik belum sampai ke sana. Hanya
cahaya lampu minyak mengintip dari celah dinding anyaman bambu. Rumah- rumah
itu sunyi dan hitam. Sesunyi dan sehitam alam hingga ke puncak bukit. Sedangkan
bukit itu terpampang bagai mau merahapi alam kecil di bawahnya. Tepat diatas
perbatasan alam yang pekat itu, sesekali cahaya terang mengilat. Bukit itu
bagai binatang merayap maha besar dalam kisah prasejarah. Mengerikan
nampaknya.
Tiba-tiba pintu rumah
di pinggir kiri jalan terbuka.
Cahaya lampu minyak
melompat keluar. Masuk ke gelap malam. Kepala seorang perempuan menjulur. Dia
memandang lama ke- pada kedua laki-laki itu. Laki-laki itu juga
memandangnya.
Ketika lelaki itu
berjalan terus, kepala perempuan itu lenyap lagi ke balik pintu sambil
menggerutu. "Sialan.
Bukan
mereka."
Dan perempuan lain di
dalam rumah cekikikan ketawa. Lalu hilang karena pintu ditutup lagi. Cahaya
lampu yang menjilat malam itu pun lenyap bersamanya. Renyai tidak turun
lagi.
"Kurang ajar.
Berani bilang aku sialan. Kalau aku mau perempuan bukan ke seni aku,
tahu?" kata si kekar masih dalam hatinya.
"Perempuan
pemilik daging sewaan ini, sama saja dengan pemilik otot. Sama tidak punya etika,
tidak punya moral." gerutu si kurus.
Kemudian mereka tiba
lagi di sebuah simpang. Jalan be- sar yang mereka tempuh membelok ke kiri. Tapi
mereka me- neruskan arahnya, melalui jalan kecil tanpa aspal. Kerikil
besar-kecil berserakan menutupnya. Gemercakan bunyinya di- pijaki. Dekat di
kiri kanan jalan meliuk-liuk daun pisang ditiup angin. Berkepakan bunyinya
menyela desauan angin yang meniup dan nyanyian jengkrik. Bukit menghempang di
hadapan mereka hilang timbul disela daun pisang itu. La- ngit yang memberikan
kilatan, juga mengintip dicelahnya. "Tak kusangka aku ke sini di malam
seperti ini." si kekar berkata dalam hatinya lagi. "Mengapa aku mesti
ke sini? Seumur-umurku belum pernah aku ke sini. Jangkankan malam. Siang pun
belum. Gila benar."
"Orang kuat,
orang kaya, itu maunya takdir. Jika enggan menghormati kaum jelata, hormatilah
takdir. Kalau mereka tidak mau, lawan takdir itu. Takut melawan, terinjak
terus. Kalau melawan, gunakan otak. Akali. Kalah menang juga takdir." kata
si kurus masih dalam hatinya.
Tiba-tiba keduanya
sama terkejut. Langkah mereka sama terhenti, sambil dengan hati-hati mengawasi
sesuatu yang melintas cepat di depan mereka. Rupanya seekor musang.
Berdesauan suara
perlandaan badannya dengan dedaunan di semak itu.
"Huss, musang.
Bikin kaget orang. Nantilah, aku bawa bedil ke sini. Boleh kamu tahu
rasa." kata si kekar.
"Bagi kamu
musang, selalu ada sekandang ayam untuk kamu terkam. Apalah daya ayam karena
sudah takdirnya begitu. Kata Hobbes hanya cocok untuk binatang. Manusia yang
bina- tang, ya, sama. Tapi aku manusia. Manusia yang manusia. Kalau kuat, ya,
jangan menindas. Kalau tidak mau melawan, jadi ayamlah kamu." kata si
kurus lagi.
Keduanya terus
melangkah juga. Tapi lebih lambat. Si kekar seperti mencari-cari sesuatu.
"Orang kurus seperti kamu, sekali tetak, lehermu patah. Berhari-hari
kemudian orang akan mencari bau bangkai membusuk ke sini. Bangkai itu, bangkai
kamu. Karena itu jangan sekali-kali menentang
orang kuat."
kata si kekar lagi. Masih dalam hati. Dia lebih memperlambat langkahnya seperti
dia merasa sudah sampai ke tempat yang ditujunya. Dan memang tak lama kemudian
mereka sampai ke suatu padang luas yang membujur di sepanjang kaki bukit di
kejauhan itu. Tiada pohon tumbuh disitu. Selain belukar menyemak. Dulunya
padang itu tempat serdadu Belanda, sorja Jepang dan tentara revolusi latihan
menembak. Di sana Jepang juga memenggal nyawa orang yang dituduh pengkhianat.
Tentera revolusi pun meniru gurunya yang sorja Jepang. Sehingga padang itu menumbuhkan
fantasi yang menegakkan bulu roma setiap orang.
Orang-orang tawanan
yang akan dibawa ke situ, sudah ke- jang duluan oleh ketakutan atau cepat-cepat
berdoa dengan seribu cara. Dan kini padang luas yang sunyi dan menimbulkan
fantasi seram itu, di malam berenyai, dingin dan pekam, didatangi oleh dua
lelaki. Dan padang itu, seperti biasa menanti dan menyaksikan orang-orang yang
dipenggal lehernya atau ditembak mati tanpa peduli perasaan si kor- ban. Padang
itupun sunyi menerima kedatangan kedua laki- laki itu. Bersikap masa bodoh
terhadap segala apa yang di- lakukan oleh manusia terhadap sesamanya.
Seolah-olah berkata: "Hai manusia, silakan kalian saling bunuh." Tapi
arwah manusia yang dibunuh tanpa kerelaan, sehingga menumbuhkan fantasi yang
menghantu, seperti tidak menyentuh hati kedua lelaki yang mendatanginya di
malam itu.
"Dia mau
menjagal aku, seperti yang dilakukan serdadu-serdadu itu." kata si kurus
dalam hatinya.
"Kalau dia
sampai mati aku gampar, orang akan menanyai aku. Polisi akan menangkap aku.
Matilah aku. Sialnya ini orang mau ke sini." kata si kekar menggerutu pada
dirinya. "Kalau aku dipenjarakan, akan apa perasaan isteriku. Kalau aku
dikuhum mati? Bajingan-bajingan akan memburu istriku yang muda, cantik dan kaya
oleh warisanku. Sialan".
Cahaya kilat memancar
juga jauh tinggi dilangit, tanpa tenaga menembusi gelap dan kesepian padang
itu. Dan sese- kali angin meniup agak keras, hingga daunan kayu bergoyangan
menjatuhkan pautan tetesan air padanya. Gegap berde- sauan bunyinya, bagai
teriakan prajurit yang kemasukan semangat mau mati yang bernyala dan haus
darah.
Si kekar mendongakkan
kepalanya seraya memandang sekeliling alam di padang itu. Lalu katanya seraya
menghenti- kan langkahnya, "Di sini saja."
Si kurus pun
menghentikan langkahnya. Masih menekur juga dia. Keduanya kini tegak
berhadapan, seperti dua orang yang mau mengatakan sesuatu yang lama sudah
disimpan.
"Mestinya dia ini
tidak perlu aku bawa ke sini. Aku cari saja preman. Suruh ajar dia ini. Habis
perkara." kata si kekar. "Sialnya aku lancang mulut mengajaknya
berduel malam ini."
Cahaya kilat memancar
lagi. Jauh di balik bukit sebe- rang ngarai yang lebar itu. Redup, seperti tak
bertenaga. Lalu kata si kekar dengan suara redup seperti kilat itu:
"Tak pernah
selama ini aku mengangankan datang kemari ber- samamu. Apalagi malam begini.
Nyatanya kita kemari juga.
Kau tahu
mengapa?"
Si kurus mengangkat
kepalanya, seraya memandang ke arah kepala si kekar. Lalu katanya dengan suara
yang gersang.
"Maumu
'kan?" Tapi dalam hatinya dia berkata: "Kau tahu kau kekar dan kuat.
Kau jadi berani membawa aku ke sini. Tapi aku punya harga diri. Sekali aku
kecut, seumur hidup aku kau dilecehkan."
Keduanya terdiam
ketika angin bertiup rada kencang. Bersoraklah lagi dedaunan menggugurkan
tetesan sisa air yang bergantungan padanya.
"Kita telah
bersahabat sejak SMP. Berapa lama itu? Kau ingat? Lebih dua puluh tahun."
si kekar memulai bicara sebagai awal pembicaraan yang panjang dengan
mengingatkan segala apa yang telah diberikannya kepada si kurus selama mereka
bersahabat kental. Nadanya membanggakan kelebihan- nya dan melecehkan si kurus
dengan kalimat sindiran.
"Sekali hari kau
kenalkan Nita padaku. Katamu, temanmu. Aku naksir dia. Aku lamar dia pada orang
tuanya. Lalu kami kawin. Sejak itu kau berobah. Mana aku tahu Nita
pacarmu." kata si kekar.
"Kalau kapal
suka berobah arah ke mana angin kencang bertiup, lebih baik tidak menompangnya.
Tapi ini bukan soal Nita. Ini soal harga diri yang selalu kau lecehkan"
kata si kurus. Masih dalam hatinya.
"Kau kira aku
cemburu kalau Nita kemudian dekat padamu? Tidak. Aku tidak cemburu. Karena aku
tahu siapa aku, siapa Nita, siapa kau." kata si kekar. Kemudian dengan
nada yang tegar dia melanjutkan:
"Kalau kau mau
ambil dia, ambil. Tinggalkan kota ini. Aku tidak suka dilecehkan." Dia
mencoba meneliti wajah si kurus. Namun gelap malam menghalangi penglihatannya.
Cahaya kilat tak membantu ka- rena terlalu jauh di langit sebelah barat. Angin
masih se- bentar-sebentar menggoyangi dedaunan di ujung ranting.
"Kau tidak
peduli kapalmu rindu pada teluk yang dalam, ombak yang tenang. Itulah macam
manusianya kamu. Seperti raja-raja dahulu kala. Semua yang berada di bawah
kuasamu, kamu pikir dapat diperjual-belikan. Siapa mau dan tahan diperlakukan
begitu terus-menerus?" kata si kurus dalam hatinya juga.
"Sekarang, kita
berada disini, di padang yang luas ini, di malam sehabis hujan turun, dimana
kilat masih sabung- bersabungan. Namun dalam hati kecilku aku menyesali
kehadiran kita disini. Aku merasa konyol. Tapi.....kalau tidak dengan cara
begini menyelesaikan persoalan kita, hi- langlah harga diriku." kata si
kekar dengan gaya orang partai yang mencoba menumbuhkan kesan kagum yang
diharap- kannya. Tapi si kurus masih tidak menanggapi. Dia masih bersikap
seperti tadi, berdiri tanpa peduli.
"Betul-betul
sudah pekat hatimu menantang aku secara jantan?" kata si kekar.
Si kurus tak menyahut.
Tapi kepalanya tak menekur lagi. Tegaknya seperti menantang.
"Sekali lagi aku
tanya, Apa hatimu sudah pekat?"
"Kau kira
apa?" kata si kurus seraya menyurutkan sebelah kakinya selangkah.
Si kekar membuka
mantel hujannya tenang-tenang. Disam- kutkannya pada ranting belukar beberapa
langkah dari tem- patnya. Sambil melangkah digulungnya lengan panjang keme-
janya. Selesai yang kiri, lalu yang kanan. Juga dengan tenang. Tapi ketika
dilihatnya si kurus masih terpaku pada tempatnya berdiri, dia berkata lagi,
"Mengapa tak kau buka mantelmu? Kau menyesal?"
"Apa
pedulimu?"
"Baik."
kata si kekar sambil menyelesaikan menggulung lengan kemejanya. Kemudian dia
kepalkan tinjunya sambil menyurutkan langkah selangkah. Siap untuk berkelahi.
Tiba- tiba dia lihat sesuatu yang berkilat di tangan si kurus. "Apa
itu?" tanyanya.
"Pisau,"
jawab si kurus tegas.
"Oh. Kau
berpisau? Itu curang namanya." kata si kekar seraya menyurutkan kakinya
selangkah lagi.
Tak ada jawab si
kurus.
"Kalau kau main
curang, buat apa kejantanan? Aku tidak mau berduel dengan orang curang."
kata si kekar.
"Kencing
kau." carut si kurus untuk menghina.
Si kekar kehilangan
nyali. "Kalau aku tahu kau bawa pisau ......."
Dan angin bertiup
lagi. Dedaunan berdesauan pula. Kini seperti bersorak girang atas kemenangan
orang kecil atas keangkuhan orang besar.
Lama kemudian si
kekar berkata lagi, tapi dengan suara yang kendor. "Aku orang terdidik.
Terpandang pada mata ma- syarakat. Aku tidak mau mati terbunuh oleh sahabat
karib- ku sendiri. Tak aku sangka, kau mau membunuhku."
"Mestinya aku
ludahi wajahmu. Tapi apa gunanya menghina orang yang kalah?" kata si kurus
dalam hati. Seketika ada pikiran yang mengganggunya, bagaimana kalau si kekar
jadi pemenang. "Pasti seperti pemenang pada perang saudara."
"Maksudku, hanya
ingin menyelesaikan persoalan antara kita. Bukan untuk berbunuh-bunuhan. Karena
kita berhabat karib." kata si kekar dengan suara lirih.
Si kurus membalikkan
badannya. Lalu melangkah ke arah mereka datang tadi. Tidak tergesa-gesa. Juga
tidak pelan.
"Tunggu. Tunggu
aku." seru si kekar. Karena si kurus terus menjauh, dia mengikuti dengan
langkah panjang-panjang. "Jangan kau salah mengerti. Sebenarnya aku tidak
hendak berkelahi. Apalagi dengan kau." katanya setelah dekat.
Si kurus tidak
menjawab. Dia terus berjalan tanpa mem- lambatkan langkah. Si kekar terus juga
bicara tentang pe- nyesalannya mengajak si kurus ke tempat yang sepi itu.
Kemudian katanya: "Aku minta maaf sebesar-besar maafmu.
Kau mau, bukan?"
Karena si kurus terus tidak berkata, di pegangnya tangan si kurus. Tapi si
kurus merenggutkan tangannnya dari pegangan itu. Terperengah berdiri si kekar
beberapa saat.
Angin malam terasa
bertiup lagi. Dedaunan pohon ping- gir jalan itu mendesau seketika. Si kekar
melangkah cepat, lebih cepat dari langkah si kurus. Setelah beberapa langkah
mendahului, dia berdiri dan menanti si kurus mendekat.
Didekapnya kedua
telapak tangannya di bawah dagunya se- perti patung Budha. Lalu katanya
memelas: "Aku minta sung- guh, jangan kau ceritakan peristiwa ini kepada
siapapun. Hancur harga diriku. Akan apa kata Nita, kalau dia tahu?
Hancur aku.
Hancur."
Si kurus terus
melangkah. Si kekar terus menghadang dengan langkah mundur. Tanpa merobah letak
kedua tangan, si kekar berkata lagi: "Apapun yang kau minta akan aku beri,
asal kau tidak ceritakan kepada siapapun. Habis aku. Hancur harga diriku.
Katakan apa yang kau mau. Kalau kau mau Nita, ambillah. Aku ikhlas."
Tiba-tiba dia
berhenti. Dia ingat mantelnya tergantung pada ranting belukar. Tergesa-gesa dia
kembali untuk mengambilnya. Tergesa-gesa pula dia mengenakan mantel serta
mengancingkannya. Sedangkan matanya terus juga memandang si kurus yang kian
menjauh dan kian hilang dalam gelap ma- lam. Dia berlari mengejar sambil
memangil-manggil nama si kurus dan minta si kurus menunggu. Ketika sampai di
tempat mereka berpisah tadi, si kekar berhenti. Dia memandang berkeliling
mencari dimana si kurus berada. Tidak siapapun terlihat, selain gelap malam.
Bulu romanya merinding. Sambil berlari kencang, dia memanggil nama si kurus
keras-keras. "Dali, tunggu. Dali, tunggu. Jangan tinggalkan aku.
Daliiii."
Si kurus keluar dari
persembunyiannya di belukar, setelah suara si kekar tidak terdengar lagi. Dia
bersembunyi karena enggan berjalan seiring dengan sahabat lama yang sudah jadi
bekas sahabat.
Sumber :
Dua Orang Sahabat,
karya AA. Navis
0 Response to "Dua Orang Sahabat Karya AA.Navis"
Post a Comment
Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.