Saraswati, Si Gadis Dalam Sunyi, karya AA. NAVIS

Saraswati, Si Gadis Dalam Sunyi
Karya AA. NAVIS
 
 Saraswati
Sunyi adalah duniaku. sunyi adalah nasibku. sundunia tanpa bunyi, tanpa suara. segala-galanya sunyi. bagiku dunia terkembang sama seperti dirimu, Saudaraku.
Engkau kenal suka. aku pun kenal. engkau tahu pahit dan manis, aku pun tahu.engkau senang pada yang lembut, benci pada yang kasar , aku pun juga begitu. Engkau riang pada yang terang, sepi pada yang gelap, aku pun demikian. tapi duniaku tidak semuanya sama seperti duniamu, Saudarku. Duniaku adalah sunyi.

Engkau tidak akan tahu kenapa duniaku mesti sunyi, Saudara ku. aku juga tidak tahu. Semua orang mengatakan, itulah suratan nasib bagiku. aku tidak tahu. hanya Tuhan lah yang tahu. maka terkembanglah duniaku sendiri yang tak dapat kau kenal, dunia tanpa bunyi dan suara karena aku tuli dan karenanya pula aku bisu.

Kalau aku bisa bercerita padamu sekarang, Saudaraku, adalah suatu keajaiban yang dijalin oleh nasib. setelah kau selesai membaca kisah ini nanti, kau akan tahu betapa nasib itu telah menjalin semuanya dalam diriku.

Aku seorang gadis. dari kecil sudah begini dan aku tidak tahu kapan nasib kami bermula. aku punya dua orang kakak laki-laki. aku punya ayah dan ibu. tetapi mereka semua telah tiada lagi kini, Saudaraku. mereka telah meninggal oleh suatu penghadang pasukan.

Pemberontak dalam perjalanan kembali dari Bandung . mobilnya jatuh ke jurang dan terbakar. dan aku tidak pernah lagi bertemu mereka semenjak itu. peristiwa itu lama kemudian aku ketahui secara jelas.

Pada hari sabtu sore, semua keluarga ke Bandung menghadiri pesta perkawinan kerabat karib kami. aku tidak dibawa mereka karena waktu itu aku sakit . aku tinggal bersamasi bibi di rumah. minggu sore mestinya mereka telah kembali karena besoknya, hari senin, ayah harus masuk kantor, kakak dan adikku sudah masuk sekolah. tapi sampai pagi hari senin  mereka tidak kembali. terlambat kembali sehari bila kami ke Bandung sebenarnya biasa. tapi sekali ini, mereka tidak kembali sampai hari Rabu. ada perasaan tidak enak menjalar dalam diriku. namun, aku tidak menduga sama sekali bahwa semenjak itu aku telah kehilangan semua yang aku cintai.

Hari Kamis barulah aku diberi tahu oleh keluarga kami, bahwa semua yang aku sayangi tidak akan kembali. aku tidak akan pernah bertemu mereka lagi. seorang paman dengan istrinya datang kerumah. pada wajah mereka tergurat kisah duka. mereka membawa aku duduk di sofa dengan rangkulan mesra. dalam hatiku, timbul rasa aneh oleh perlakuan paman demikian itu. padahal selama ini, meski mereka baik padaku, namun tidak pernah seramah itu. seperti tiba-tiba si bibi menangis bagai orang kesurupan. duduk tegak dan menarik–menarik rambutnya. lalu istri paman membawanya ke ruang belakang. ketika kembali lagi, ia duduk di sisiku. paman lama tercenung sebelum , mulai menerangkan apa yang terjadi. kemudian menggerak-gerakkan tangganya. tapi, aku tidak bisa memahami. namun, hatiku terasa tidak enak. paman seperti putus asa ketika tahu aku tidak paham pada gerakkan tangannya itu.

Kemudian, paman mengambil potret di dinding. potret kami sekeluarga beberapa tahun yang lalu bersama sedan dinas yang baru saja ayah pakai. ayah, dalam potret itu, menggendong adikku terkecil. si kecil menangis, tangannya menggapai ibu. ibu mencoba membujuknya seraya menunjuk ke arah depan. kakakku tertua duduk di spatbor sambil mengancungkan kedua tangannya. kakakku kedua mmenjulurkan kepala dari jendela sedan dan tanganya seperti melambai-lambai. adikku tertua berpegangan pada tangan ibu, sedangkan aku beridiri di antara ayah dan ibu.

Paman menujuk ke semua anggota keluarga dalam potret itu. lalu menggerak-gerakkan tangannya lagi selanjutnya tangan itu ditaruhnya di kasur sofa. pelan-pelan didorongnya ke depan sampai ke tepi sofa. menyusuri tepinya. lalu tangan itu berputar-putar sampai ke lantai. tergeletak di sana dengan telapaknya menghadap ke atas. mata ku terpejam demi teringat pada peristiwa sebuah oplet terjun masuk Ciliwung. begitulah maksud paman dengan tangannya itu. sedan ayah ku jatuh, semua  yang aku cintai berada di dalamnya.

Tiba-tiba rasa takut, sedih, dan tidak tahu pada apa pun yang akan aku alami, merasuki diriku. aku pun menangis. aku berbuat sama dengan bibi. malah memukul-mukul dada, menerjang-nerjangkan kedua kakiku sembari duduk di lantai. aku menjerit-jerit juga. Kemudian, kemudian sekali secara tiba-tiba pula aku merasa bahwa sekarang aku telah sebatang kara.

Tidak tahu akan berapa lama aku menangis terisak-isak. tidak tahu akan berapa lama aku jatuh sakit. album keluarga senantiasa berada di pangkuan ku bila sendirian di kamar. aku membalik-balik lembarannya untuk mengembalikan kenang-kenanganku kepada mereka yang telah pergi. sepotong-sepotong peristiwa manis membayang lagi pada anganku. oh, alangkah indahnya semua kenangan itu. aku ingat sikap ayah setiap pagi akan pergi ke kantor. ayah bersisir  rapi di depan kaca. memasang dasi pada lehernya. sepatu ayah selalu mengilap. aku yang selalu menyemirnya. dengan senang hati aku melakukannya sebagai pernyataan cintaku padanya.

Sejak punya sedan dinas, ayah berangkat ke kantor bersama kakak-kakakku ke sekolah. ayah senantiasa pulang kantor pada waktu yang tetap. aku ingat bagaimana cara ayah masuk rumah. dasi ayah telah longgar ikatannya. rambut sedikit kusut. tas dijinjing dengan tangan kiri. setelah menukar pakaian, ayah ke kamar mandi untuk berwudhu. ayah selalu sembahyang dulu sebelum makan. makan ayah senantiasa banyak. ayah makan bersama ibu.
 
Saudara-saudaraku makan lebih dulu karena waktu pulangnya lebih cepat. akulah yang melayani ayah. kalau makan malam, kami makan bersama. pada waktu makan, ayah tidak suka jika ada yang bicara. ayah akan menegur. sehabis makan, barulah ayah berbicara tentang macam-macam hal di meja makan. aku tidak tahu apa yang di bacarakan .

Sumber: Saraswati, si Gadis dalam sunyi
Karya A.A NAVIS




Silahkan masukan e-mail Anda sekarang, untuk mendapatkan update artikel terbaru (Gratis!):

Delivered by FeedBurner

0 Response to "Saraswati, Si Gadis Dalam Sunyi, karya AA. NAVIS"

Post a Comment

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.