PENGGUNAAN TANDA BACA

Tanda baca adalah simbol yang tidak berhubungan dengan fonem (suara) atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan berperan untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan, dan juga intonasi serta jeda yang dapat diamati sewaktu pembacaan. Aturan tanda baca berbeda antar bahasa, lokasi, waktu, dan terus berkembang. Beberapa aspek tanda baca adalah suatu gaya spesifik yang karenanya tergantung pada pilihan penulis. Penggunaan tanda baca memiliki peran yang sangat vital dalam penulisan, karena tanpa adanya tanda baca kata atau kalimat akan terkesan ambigu tidak memiliki kejelasan yang pasti. Oleh karena itu, penggunaan tanda baca harus kita pahami dan kita kuasai sebagai upaya menciptakan sebuah karya tulis yang baik sesuai dengan apa yang ingin kita sampaikan. Penggunaan tanda baca berikut dapat memperbaiki segi penulisan kita.  A. Tanda Titik (.)      1.  Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.           Misalnya:                 Ayahku tinggal di Solo.                 Biarlah mereka duduk di sana.                 Dia menanyakan siapa yang akan datang.        2.  Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,           ikhtisar, atau daftar.           Misalnya:                  a.  III. Departemen Dalam Negeri                       A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa                       B. Direktorat Jenderal Agraria                       1. ...                  b.  1. Patokan Umum                       1.1 Isi Karangan                       1.2 Ilustrasi                          1.2.1  Gambar Tangan                          1.2.2  Tabel                          1.2.3  Grafik      Catatan:                Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan                 atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam                 deretan angka atau huruf.       3.  Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang           menunjukan waktu.           Misalnya:                   pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)       4.  Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang           menunjukan jangka waktu.           Misalnya:                   1.35.20 jam ( 1 jam, 35 menit, 20 detik)                   0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)                   0.0.30 jam (30 detik)        5.  Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak           berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar           pustaka.           Misalnya:                   Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai                   Poestaka.       6.  Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.           Misalnya:                   Desa itu berpenduduk 24.200 orang.                   Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.       7.  Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau           kelipatannya yang tidak menunjukan jumlah.           Misalnya:                   Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.                   Lihat halaman 2345 dan seterusnya.                   Nomor gironya 5645678.       8.  Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala           karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.           Misalnya:                  Acara kunjungan Adam Malik                  Bentuk dan Kedaulatan(Bab I UUD ‘45)                  Salah Asuhan       9.  Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat           atau (2) nama dan alamat penerima surat.           Misalnya:                   Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik)                   Jakarta (tanpa titik)                   1 April 1985 (tanpa titik)                   Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)                   Jalan Arif 43 (tanpa titik)                   Palembang (tanpa titik)          Atau:                    Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)                    Jalan Cikini 71 (tanpa titik)                    Jakarta (tanpa titik)  B.  Tanda Koma (,)       1.  Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau            pembilangan.            Misalnya:                     Saya membeli kertas, pena, dan tinta.                     Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.        2.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari            kalimat serata berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi  atau            melainkan.            Misalnya:                      Saya ingin datang, tetapihari hujan.                      Didi bukan anak saya, melainkananak Pak Kasim.        3.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat             jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.            Misalnya:                     Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.                     Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.        4.  Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk            kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.            Misalnya:                    Saya tidak akan datang kalau hari hujan.                    Dia lupa akan janjinya karena sibuk.                    Dia tahu bahwa soal itu penting.        5.  Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung            antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh            karena itu, jadi, lagi pula,meskipun begitu, akan tetapi.            Misalnya:                      ... Oleh karena itu, kita harus hati-hati.                      ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.        6.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti kata seperti o, ya,            wah, aduh, kasihandari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.            Misalnya:                     O, begitu?                     Wah,bukan main!                     Hati-hati, ya, nanti jatuh.        7.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain            dari kalimat.            Misalnya:                     Kata Ibu, “ Saya gembira sekali.”                      “Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”        8.  Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian            alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau             negeri yang ditulis berurutan.            Misalnya:                  (i)  Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas                        Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan, Bogor.                  (ii)  Sdr. Anwar, Jalan Pisang Batu 1, Bogor                  (iii)  Surabaya, 10 Mei 1960                  (iv)  Kuala Lumpur, Malaysia.        9.  Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik            susunannya dalam daftar pustaka.            Misalnya:                    Alisjahbana, Sultan Takdir. 1949. Tata bahasa Baru Bahasa Indonesia.                    Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.        10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang             mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga,             atau marga.             Misalnya:                   B. Ratulangi, S.E.                   Ny. Khadijah, M.A.        11. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya             tidak membatasi.             Misalnya:                   Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, berkunjung ke Manado.                   Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti                    latihan paduan suara.             Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit             tanda koma:                    Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.         12. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan               sen yang dinyatakan dengan angka.                 Misalnya:                      12,5 m                       Rp 12,50         13. Tanda koma dapat dipakai––untuk menghindari salah baca––di belakang               keterangan yang terdapat pada awal kalimat.               Misalnya:                      Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap                       yang bersungguh-sungguh.                       Atas bantuan Edyar, Agus mengucapkan terima kasih.               Bandingkan dengan:                       Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan                       dan pengembangan bahasa.                      Agus mengucapkan terima kasih atas bantuan Edyar.        14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian              lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir             dengan tanda tanya atau tanda seru.             Misalnya:                       “ Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.                       “Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.  C. Tanda Titik Koma (;)      1.  Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat           yang sejenis dan setara.           Misalnya:                  Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.       2.  Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk           memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.           Misalnya:                 Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk memasak di                 dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional.  D. Tanda Titik Dua (:)      1.  Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan           pemerian.           Misalnya:                   Ketua  : Moch. Achyar                   Sekretaris  : Tati Suryati                   Bendahara  : Noviana Pertiwi       2.  Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di           antara surah dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul           suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam           karangan.           Misalnya:                    (v)  Tempo, I (34), 1971:7                    (vi)  Surah Yasin:9                    (vii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi,                           sudah terbit.                    (viii) Marzuki dan Rudy W. 2006. Pembuatan Aneka Kerupuk. Jakarta:                            Penebar Swadaya.       3.  Titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan           pelaku dalam percakapan.           Misalnya:                    Ayah  : “Karyo, sini kamu!”                    Karyo  : (datang menghampiri) “Ada apa, Pak?”                    Ayah  : “Tolong ambilkan sepatu hitam yang di atas lemari!”      4.  Titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti          rangkaian atau pemerian.          Misalnya:                    Pak Adi mempunyai tiga orang anak: Ardi, Aldi, dan Asdi.                    Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan                    lemari.  E.  Tanda Hubung (-)      1.  Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar atau kata berimbuhan           yang terpisah oleh pergantian baris.           Misalnya:       2.  Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.           Misalnya:            Anak-anak, kupu-kupu, berulang-ulang, kemerah-merahan, mondar-mandir, sayur-mayur       3.  Tanda hubung menyambung huruf dari kata yang dieja satu-satu dan           bagian-bagian tanggal.            Misalnya:                     p-a-n-i-t-i-a                    17-08-1945       4.  Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan kata dengan kata berikutnya           atau sebelumnya yang dimulai dengan huruf kapital, kata/huruf dengan           angka, angka dengan kata/huruf.           Misalnya:                   se-Indonesia, se-Jabodetabek, mem-PHK-kan, sinar-X, peringkat ke-2,                   S-1, tahun 50-an       5.  Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia           dengan unsur bahasa asing.           Misalnya:                   di-smash, pen-tackle-an  F.  Tanda Pisah      1.  Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi           penjelasan di luar bangun kalimat.           Misalnya:                 Kemerdekaan bangsa itu––saya yakin akan tercapai––diperjuangkan                 oleh bangsa itu sendiri.        2.  Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang            lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.            Misalnya:                  Rangkaian temuan ini––evolusi, teori kenisbian, dan kini juga                  pembelahan atom––telah mengubah konsepsi kita tentang alam                  semesta.        3.  Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau kata dengan arti ‘sampai            dengan’ atau ‘sampai ke’.            Misalnya:                  2004––2009                  tanggal 1––10 Mei 2007                  Jakarta––Bandung  G. Tanda Elipsis (...)      1.  Tanda elipsis dipakai dalam kalimat atau dialog yang terputus-putus.           Misalnya:                  Kalau begitu ... ya, ayo kita berangkat.       2.  Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada           bagian yang dihilangkan.           Misalnya:                 ... selanjutnya akan di bawa ke pengadilan.                 Ibu baru pulang ... pasar.       Catatan:     Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, maka perlu     dipakai empat buah titik; tiga titik untuk menandai penghilangan teks dan     satu titik untuk menandai akhir kalimat.           Misalnya:                  Ibu baru pulang dari....  H. Tanda Tanya (?)     1.  Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.          Misalnya:                Kapan ia berangkat?                Saudara tahu, bukan?      2.  Tanda tanya dipakai di dalam kurung untuk menyatakan bagian kalimat          yang disangsikan kebenarannya.          Misalnya:                 Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).                 Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.  I.  Tanda Seru (!)     1.  Tanda seru dipakai pada akhir kalimat perintah.          Misalnya:                Bersihkan kamar itu sekarang juga!                Jangan berisik!      2.  Tanda seru dipakai pada akhir ungkapan atau pernyataan yang          menggambarkan kesungguhan, ketidak percayaan, ketakjuban, ataupun          rasa emosi yang kuat.          Misalnya:                 Alangkah seramnya peristiwa itu!                 Indah sekali pemandangan alam ini!                 Merdeka!  J.  Tanda Kurung ((...))      1.  Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.           Misalnya:                   Komisi A telah selesai menyusun GBPK (Garis-Garis Besar Program                   Kerja) dalam sidang pleno tersebut.        2.  Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian            integral pokok pembicaraan.            Misalnya:            Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan perkembangan perekonomian Indonesia             lima tahun terakhir.        3.  Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan            keterangan.            Misalnya:                     Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan                     (c) modal.        4.  Tanda kurung mengapit huruf atau katayang kehadirannya di dalam teks            dapat dihilangkan.            Misalnya:                     Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).                     Sahrul Gunawan berasal dari (kota) Bogor.  K. Tanda Kurung Siku ([...])      1.  Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai           koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang           lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang           terdapat di dalam naskah asli.           Misalnya:                   Sang Puteri men[d]engar bunyi gemerisik.      2.  Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang          sudah bertanda kurung.          Misalnya:                   Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab                   II [lihat halaman 35––38]) perlu dibentangkan di sini.  L.  Tanda Petik (“...”)      1.  Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan           naskah atau bahan tertulis lainnya.           Misalnya:                   “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”                     Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”       2.  Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai           dalam kalimat.           Misalnya:                    Sajak “Berdiri Aku” terdaapat pada halaman 5 buku itu.                    Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai                    Prestasi di SMA” diterbitkan dalam harian Tempo.        3.  Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang           mempunyai arti khusus.           Misalnya:                    Saat ini ia sedang tidak mempunyaipacar yang di kalangan remaja                    dikenal dengan “jomblo”.                    Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.  M. Tanda Petik Tunggal (‘...’)      1.  Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.           Misalnya:                    Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”                     “Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak                     pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.         2.  Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata           atau ungkapan asing.           Misalnya:                     Feed-back berarti ‘balikan’.  N. Tanda Garis Miring (/)      1.  Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat           dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.          Misalnya:                    No. 12/PK/2005                   Jalan Kramat III/10                   Masa Bakti 2005/2006                   Tahun Ajaran 2006/2007         2.  Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.           Misalnya:                   Laki-laki/Perempuan                   120 km/jam  O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)      Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka      tahun.      Misalnya:                  Gunung pun ‘kan kudaki. (‘kan = akan)                  17 Agustus ’45 (’45 = 1945)  Sekian mengenai tanda baca, semoga kita bisa lebih memahami dan mengerti akan penggunaan tanda baca. Semoga bermanfaat. Salam Guru Ngapak!
Tanda baca adalah simbol yang tidak berhubungan dengan fonem (suara) atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan berperan untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan, dan juga intonasi serta jeda yang dapat diamati sewaktu pembacaan. Aturan tanda baca berbeda antar bahasa, lokasi, waktu, dan terus berkembang. Beberapa aspek tanda baca adalah suatu gaya spesifik yang karenanya tergantung pada pilihan penulis. Penggunaan tanda baca memiliki peran yang sangat vital dalam penulisan, karena tanpa adanya tanda baca kata atau kalimat akan terkesan ambigu tidak memiliki kejelasan yang pasti. Oleh karena itu, penggunaan tanda baca harus kita pahami dan kita kuasai sebagai upaya menciptakan sebuah karya tulis yang baik sesuai dengan apa yang ingin kita sampaikan. Penggunaan tanda baca berikut dapat memperbaiki segi penulisan kita.

A. Tanda Titik (.)     
1.  Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
          Misalnya:
                Ayahku tinggal di Solo.
                Biarlah mereka duduk di sana.
                Dia menanyakan siapa yang akan datang. 

     2.  Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,
          ikhtisar, atau daftar.
          Misalnya:
                 a.  III. Departemen Dalam Negeri
                      A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
                      B. Direktorat Jenderal Agraria
                      1. ...
                 b.  1. Patokan Umum
                      1.1 Isi Karangan
                      1.2 Ilustrasi
                         1.2.1  Gambar Tangan
                         1.2.2  Tabel
                         1.2.3  Grafik
     Catatan:
               Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan
                atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam
                deretan angka atau huruf.

     3.  Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
          menunjukan waktu.
          Misalnya:
                  pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

     4.  Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
          menunjukan jangka waktu.
          Misalnya:
                  1.35.20 jam ( 1 jam, 35 menit, 20 detik)
                  0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
                  0.0.30 jam (30 detik)

     5.  Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak
          berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar
          pustaka.
          Misalnya:
                  Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai
                  Poestaka.

     6.  Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
          Misalnya:
                  Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
                  Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

     7.  Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
          kelipatannya yang tidak menunjukan jumlah.
          Misalnya:
                  Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
                  Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
                  Nomor gironya 5645678.

     8.  Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala
          karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
          Misalnya:
                 Acara kunjungan Adam Malik
                 Bentuk dan Kedaulatan(Bab I UUD ‘45)
                 Salah Asuhan

     9.  Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat
          atau (2) nama dan alamat penerima surat.
          Misalnya:
                  Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik)
                  Jakarta (tanpa titik)
                  1 April 1985 (tanpa titik)
                  Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
                  Jalan Arif 43 (tanpa titik)
                  Palembang (tanpa titik)
         Atau:
                   Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)
                   Jalan Cikini 71 (tanpa titik)
                   Jakarta (tanpa titik)

B.  Tanda Koma (,)
      1.  Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau
           pembilangan.
           Misalnya:
                    Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
                    Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.

      2.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari
           kalimat serata berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi  atau
           melainkan.
           Misalnya:
                     Saya ingin datang, tetapihari hujan.
                     Didi bukan anak saya, melainkananak Pak Kasim.

      3.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
            jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
           Misalnya:
                    Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
                    Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

      4.  Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk
           kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
           Misalnya:
                   Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
                   Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
                   Dia tahu bahwa soal itu penting.

      5.  Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
           antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh
           karena itu, jadi, lagi pula,meskipun begitu, akan tetapi.
           Misalnya:
                     ... Oleh karena itu, kita harus hati-hati.
                     ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.

      6.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti kata seperti o, ya,
           wah, aduh, kasihandari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
           Misalnya:
                    O, begitu?
                    Wah,bukan main!
                    Hati-hati, ya, nanti jatuh.

      7.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
           dari kalimat.
           Misalnya:
                    Kata Ibu, “ Saya gembira sekali.”
                     “Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”

      8.  Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian
           alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau
            negeri yang ditulis berurutan.
           Misalnya:
                 (i)  Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas
                       Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan, Bogor.
                 (ii)  Sdr. Anwar, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
                 (iii)  Surabaya, 10 Mei 1960
                 (iv)  Kuala Lumpur, Malaysia.

      9.  Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik
           susunannya dalam daftar pustaka.
           Misalnya:
                   Alisjahbana, Sultan Takdir. 1949. Tata bahasa Baru Bahasa Indonesia.
                   Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.

      10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang
            mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga,
            atau marga.
            Misalnya:
                  B. Ratulangi, S.E.
                  Ny. Khadijah, M.A.

      11. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya
            tidak membatasi.
            Misalnya:
                  Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, berkunjung ke Manado.
                  Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti
                   latihan paduan suara.
            Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit
            tanda koma:
                   Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.

       12. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan
              sen yang dinyatakan dengan angka.
                Misalnya:
                     12,5 m
                      Rp 12,50

       13. Tanda koma dapat dipakai––untuk menghindari salah baca––di belakang
              keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
              Misalnya:
                     Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap
                      yang bersungguh-sungguh.
                      Atas bantuan Edyar, Agus mengucapkan terima kasih.
              Bandingkan dengan:
                      Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan
                      dan pengembangan bahasa.
                     Agus mengucapkan terima kasih atas bantuan Edyar.

      14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
             lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir
            dengan tanda tanya atau tanda seru.
            Misalnya:
                      “ Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
                      “Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.

C. Tanda Titik Koma (;)
     1.  Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat
          yang sejenis dan setara.
          Misalnya:
                 Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.

     2.  Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
          memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
          Misalnya:
                Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk memasak di
                dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional.

D. Tanda Titik Dua (:)

     1.  Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan
          pemerian.
          Misalnya:
                  Ketua  : Moch. Achyar
                  Sekretaris  : Tati Suryati
                  Bendahara  : Noviana Pertiwi

     2.  Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di
          antara surah dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul
          suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam
          karangan.
          Misalnya:
                   (v)  Tempo, I (34), 1971:7
                   (vi)  Surah Yasin:9
                   (vii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi,
                          sudah terbit.
                   (viii) Marzuki dan Rudy W. 2006. Pembuatan Aneka Kerupuk. Jakarta:
                           Penebar Swadaya.

     3.  Titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan
          pelaku dalam percakapan.
          Misalnya:
                   Ayah  : “Karyo, sini kamu!”
                   Karyo  : (datang menghampiri) “Ada apa, Pak?”
                   Ayah  : “Tolong ambilkan sepatu hitam yang di atas lemari!”

    4.  Titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti
         rangkaian atau pemerian.
         Misalnya:
                   Pak Adi mempunyai tiga orang anak: Ardi, Aldi, dan Asdi.
                   Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan
                   lemari.

E.  Tanda Hubung (-)
     1.  Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar atau kata berimbuhan
          yang terpisah oleh pergantian baris.
          Misalnya:

     2.  Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
          Misalnya:
           Anak-anak, kupu-kupu, berulang-ulang, kemerah-merahan, mondar-mandir, sayur-mayur

     3.  Tanda hubung menyambung huruf dari kata yang dieja satu-satu dan
          bagian-bagian tanggal.
           Misalnya:
                    p-a-n-i-t-i-a
                   17-08-1945

     4.  Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan kata dengan kata berikutnya
          atau sebelumnya yang dimulai dengan huruf kapital, kata/huruf dengan
          angka, angka dengan kata/huruf.
          Misalnya:
                  se-Indonesia, se-Jabodetabek, mem-PHK-kan, sinar-X, peringkat ke-2,
                  S-1, tahun 50-an

     5.  Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia
          dengan unsur bahasa asing.
          Misalnya:
                  di-smash, pen-tackle-an

F.  Tanda Pisah
     1.  Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi
          penjelasan di luar bangun kalimat.
          Misalnya:
                Kemerdekaan bangsa itu––saya yakin akan tercapai––diperjuangkan
                oleh bangsa itu sendiri.

      2.  Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang
           lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
           Misalnya:
                 Rangkaian temuan ini––evolusi, teori kenisbian, dan kini juga
                 pembelahan atom––telah mengubah konsepsi kita tentang alam
                 semesta.

      3.  Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau kata dengan arti ‘sampai
           dengan’ atau ‘sampai ke’.
           Misalnya:
                 2004––2009
                 tanggal 1––10 Mei 2007
                 Jakarta––Bandung

G. Tanda Elipsis (...)
     1.  Tanda elipsis dipakai dalam kalimat atau dialog yang terputus-putus.
          Misalnya:
                 Kalau begitu ... ya, ayo kita berangkat.

     2.  Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada
          bagian yang dihilangkan.
          Misalnya:
                ... selanjutnya akan di bawa ke pengadilan.
                Ibu baru pulang ... pasar.

     Catatan:
    Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, maka perlu
    dipakai empat buah titik; tiga titik untuk menandai penghilangan teks dan
    satu titik untuk menandai akhir kalimat.
          Misalnya:
                 Ibu baru pulang dari....

H. Tanda Tanya (?)

    1.  Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
         Misalnya:
               Kapan ia berangkat?
               Saudara tahu, bukan?

    2.  Tanda tanya dipakai di dalam kurung untuk menyatakan bagian kalimat
         yang disangsikan kebenarannya.
         Misalnya:
                Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).
                Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

I.  Tanda Seru (!)

    1.  Tanda seru dipakai pada akhir kalimat perintah.
         Misalnya:
               Bersihkan kamar itu sekarang juga!
               Jangan berisik!

    2.  Tanda seru dipakai pada akhir ungkapan atau pernyataan yang
         menggambarkan kesungguhan, ketidak percayaan, ketakjuban, ataupun
         rasa emosi yang kuat.
         Misalnya:
                Alangkah seramnya peristiwa itu!
                Indah sekali pemandangan alam ini!
                Merdeka!

J.  Tanda Kurung ((...))

     1.  Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
          Misalnya:
                  Komisi A telah selesai menyusun GBPK (Garis-Garis Besar Program
                  Kerja) dalam sidang pleno tersebut.

      2.  Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian
           integral pokok pembicaraan.
           Misalnya:
           Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan perkembangan perekonomian Indonesia
           lima tahun terakhir.

      3.  Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan
           keterangan.
           Misalnya:
                    Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan
                    (c) modal.

      4.  Tanda kurung mengapit huruf atau katayang kehadirannya di dalam teks
           dapat dihilangkan.
           Misalnya:
                    Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
                    Sahrul Gunawan berasal dari (kota) Bogor.

K. Tanda Kurung Siku ([...])

     1.  Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai
          koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang
          lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang
          terdapat di dalam naskah asli.
          Misalnya:
                  Sang Puteri men[d]engar bunyi gemerisik.

    2.  Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang
         sudah bertanda kurung.
         Misalnya:
                  Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab
                  II [lihat halaman 35––38]) perlu dibentangkan di sini.

L.  Tanda Petik (“...”)
     1.  Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan
          naskah atau bahan tertulis lainnya.
          Misalnya:
                  “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
                    Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

     2.  Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai
          dalam kalimat.
          Misalnya:
                   Sajak “Berdiri Aku” terdaapat pada halaman 5 buku itu.
                   Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai
                   Prestasi di SMA” diterbitkan dalam harian Tempo.

     3.  Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang
          mempunyai arti khusus.
          Misalnya:
                   Saat ini ia sedang tidak mempunyaipacar yang di kalangan remaja
                   dikenal dengan “jomblo”.
                   Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.

M. Tanda Petik Tunggal (‘...’)
     1.  Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
          Misalnya:
                   Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
                    “Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak
                    pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.


     2.  Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata
          atau ungkapan asing.
          Misalnya:
                    Feed-back berarti ‘balikan’.

N. Tanda Garis Miring (/)
     1.  Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat
          dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
         Misalnya:
                   No. 12/PK/2005
                  Jalan Kramat III/10
                  Masa Bakti 2005/2006
                  Tahun Ajaran 2006/2007


     2.  Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
          Misalnya:
                  Laki-laki/Perempuan
                  120 km/jam

O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

     Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka
     tahun.
     Misalnya:
                 Gunung pun ‘kan kudaki. (‘kan = akan)
                 17 Agustus ’45 (’45 = 1945)

Sekian mengenai tanda baca, semoga kita bisa lebih memahami dan mengerti akan penggunaan tanda baca. Semoga bermanfaat. 

Salam Guru Ngapak!

Silahkan masukan e-mail Anda sekarang, untuk mendapatkan update artikel terbaru (Gratis!):

Delivered by FeedBurner

10 Responses to "PENGGUNAAN TANDA BACA"

  1. Mantab pak, penggunaan tanda baca yang biasanya dianggap sepele, tetapi harus tetap digunakan pada konteksnya masing-masing.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih pak Abdul Wahab, memang betul dalam penulisan terkadang banyak yang kurng memahami dalam penggunaan tanda baca, sehingga menimbulkan suatu kalimat atau paragraf yang kurang efektif karena terkesan ambigu. Jangan lupa baca juga artikel di www.gurupantura.com banyak artikel bermanfaat disana. :)

    ReplyDelete
  3. makasih infonya gan :D

    ReplyDelete
  4. Sama-sama mas. Semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  5. Terimakasih mas Ikhsan Lukmana, sang guru muda yang banyak menginspiasi..

    ReplyDelete
  6. penggunaan tnda baca mmang sangat pnting gan. ntah itu dlma sbuah tulisan di buku ataupn ktika kita ngtik sms di hp.
    thx infonya

    ReplyDelete
  7. Sama-sama. Benar seklai mas Trio, semoga bermanfaat untuk menjadian tulisan kita lebih baik.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.