Tahap-tahap Perkembangan Bahasa

Ada beberapa ahli yang membagi tahap-tahap perkembangan bahasa itu ke dalam tahap pralinguistik dan tahap linguistik. Akan tetapi ada ahli-ahli lain yang menyanggah pembagian ini, dan mengatakan bahwa tahap pralinguistik tidak dapat dikatakan bahasa permulaan karena bunyi-bunyi seperti: tangisan, rengekan, dan lain-lain dikendalikan oleh rangsangan (stimulus) semata. 

Kemampuan berbahasa anak-anak tidaklah diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus, tetapi berkembang secara bertahap. Tahapan perkembangan bahasa anak dapat dibagi atas: a. tahap pralingustik, b. tahap satu-kata, c. tahap dua-kata, dan d. tahap banyak-kata.

1) Tahap Pralingustik (0 – 12 bulan)

Sebelum mampu mengucapkan suatu kata, bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun. Namun pada tahap ini, bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan anak belumlah bermakna. Bunyi-bunyi itu berupa vokal atau konsonan tertentu, tetapi tidak mengacu pada kata atau makna tertentu. Untuk itulah perkembangan bahasa anak pada masa ini disebut tahap pralinguistik (Tarigan dkk., 1998 ). Bahkan pada awalnya, bayi hanya mampu mengeluarkan suara,yaitu tangisan. Pada umumnya orang mengatakan bahwa bila bayi yang baru lahir menangis, menandakan bahwa bayi tersebut merasa lapar, takut, atau bosan. Sebenarnya tidak hanya itu saja terjadi. Para peneliti perkembangan mengatakan bahwa lingkungan memberikan mereka halangan tentang apa yang dirasakan oleh bayi, bahkan tangisan itu sudah mempunyai nilai komunikatif.

Bayi yang berusia 4 – 7 bulan biasanya sudah mulai mengahasilkan banyak suara baru yang menyebabkan masa ini disebut masa ekspansi (Dworetzky, 1990). Suara-suara baru itu meliputi: bisikan, menggeram, dan memekik. Setelah memasuki usia 7 – 12 bulan, ocehan bayi meningkat pesat. Sebagian bayi mulai mengucapkan suku kata dan menggandakan rangkaian kata seperti “papapa” atau “mamama”. Ini dikenal dengan masa conical..

2) Tahap Satu-Kata (12 – 18 bulan)

Pada masa ini, anak sudah mulai belajar menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan idenya. Satu-kata mewakili satu atau bahkan lebih frase atau kalimat.

Baca juga :

Kata-kata pertama yang lazim diucapkan berhubungan dengan objek-objek nyata atau perbuatan. Kata-kata yang sering diucapkan orang tua sewaktu mengajak bayinya berbicara berpotensi lebih besar menjadi kata pertama yang diucapkan si bayi. Selain itu, kata tersebut mudah bagi si anak. Kata-kata yang mengandung konsonan bilabial (b,p,m) merupakan kata-kata yang mudah diucapkan anak-anak.Misalnya kata mama, mimik, papa, dsb. Selain itu, katakata tersebut mengandung fonem “a” yang secara artikulasi juga mudah diucapkan (tinggal membuka mulut saja).

Memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah.Untuk menafsirkan maksud tuturan anak harus diperhatikan aktivitas anak itu dan unsur-unsur non-linguistik lainnya seperti gerak isyarat, ekspresi, dan benda yang ditunjuk si anak. Mengapa begitu? Menurut Tarigan dkk, (1998) ada dua penyebab, yaitu sebagai berikut.

Pertama, bahasa anak masih terbatas sehingga belum memungkinkan mengekspresikan ide atau perasaannya secara lengkap.Keterbatasan berbahasanya diganti dengan ekspresi muka, gerak tubuh, atau unsur-unsur nonverbal lainnya.

Kedua, apa yang diucapkan anak adalah sesuatu y ang paling menarik perhatiannya saja. jika tidak mengerti konteks ucapan anak, kita akan kesulitan untuk memahami maksud tuturannya.

Walaupun memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah, komunikasi aktif dengan si anak sangat penting dilakukan. Untuk dapat berbicara, anak perlu mengetahui perbendaharaan kata yang akan disimpan di otaknya dan ini bisa didapat ketika orang tua mengajak bicara. Kalau anak jarak diajak berbicara, kata-kata yang dia dapat sangat minim sehingga penguasaan kosa kata anak juga sangat minim. Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam menghadapi anak saat memasuki usia ini adalah “jangan memakai bahasa bayi untuk anak- anak, melainkan dengan orang dewasa.” Maksudnya, ucapkanlah dengan bahasa yang seharusnya didengar,sehingga si anak juga terpacu untuk berkomunikasi dengan baik.

3) Tahap dua-kata (18 – 24 bulan)

Pada masa ini, kebanyakan anak sudah mulai mencapai tahap kombinasi dua kata. Kata - kata y ang diuc apkan k eti ka mas i h tahap satu - k ata dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan, atau bentuk- bentuk lain yang seharusnya digunakan. Anak mulai dapat mengucapkan “Ma, maem”, maksudnya “Mama, saya mau makan”. Pada tahap dua-kata ini anak mul ai mengenal berbagai makna kata, tetapi belum dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa. Selain itu, anak belum dapat menggunakan pronomina saya, aku, kamu, dia, mereka, dan sebagainya.

4) Tahap banyak-kata (3 – 5 tahun)


Pada saat mencapai usia 3 tahun, anak semakin kaya dengan perbendaharaan kata. Mereka sudah mulai mampu membuat kalimat pertanyaan, penyataan negatif, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat. Terkait dengan itu, Tompkins dan Hoskisson dalam Tarigan dkk. (1998) menyatakan bahwa pada usia 3 – 4 tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan tatabahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga atau lebih. Pada umur 5 – 6 tahun, bahasa anak telah menyerupai bahasa orang dewasa. Sebagian besar aturan gramatika telah dikuasainya dan pola bahasa serta panjang tuturannya semakin bervariasi. Anak telah mampu menggunkan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan, termasuk bercanda atau menghibur. Selanjutnya, tidak berbeda jauh dengan tahapan perkembangan bahasa anak seperti yang telah diurai.kan, Piaget (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990) membagi tahap perkembangan bahasa sebagai berikut.

a) Tahap meraban (pralinguistik) pertama pada usia 0,0 – 0,5

b) Tahap meraban (pralinguistik) kedua: kata nonsens,pada usia 0,5–1,0.

c) Tahap linguistik I: holofrastik, kalimat satu kata, pada usia 1,0–2,0.

d) Tahap linguistik II: kalimat dua kata, pada usia 2,0 – 3,0.

e) Tahap linguistik III: pengembangan tata bahasa, pada usia 3,0 – 4,0.

f) Tahap linguistik IV: tata bahasa pradewasa, pada usia 4,0 – 5,0.

g) Tahap lingistik V: kompetensi penuh, pada usia 5,0.

Begitulah mengenai tahapan-tahapan perkembangan bahasa, semoga artikel ini dapat menambah wawasan kita terutama para orangtua dan guru dalam membantu memaksimalkan perkembangan bahasa anak.

Salam Kompak dalam GuruNgapak!

Silahkan masukan e-mail Anda sekarang, untuk mendapatkan update artikel terbaru (Gratis!):

Delivered by FeedBurner

2 Responses to " Tahap-tahap Perkembangan Bahasa"

  1. memang bayi diusia 12-18 bisa mengucapkan satu kata, tapi dalam satu kata itu bicaranya masih kurang mengerti hehehee ini berita dari bayi tetangga saya loh mas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitu seperti tahapan bahasa yang telah saya tulis di atas mas, untuk tahap 0-12 bulan bayi mulai mengucapkan satu kata dan tidak memiliki makna seperti ketika menangis,.

      Delete

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.